Indosurya: IHSG Dapat Dukungan Global

Indosurya: IHSG Dapat Dukungan Global

- detikFinance
Kamis, 02 Feb 2012 07:59 WIB
Jakarta - IHSG menguat 23,29 poin (0,59%) di level 3.964,98. Total volume perdagangan BEI mencapai 4,66 triliun unit saham dengan nilai total Rp 4,64 triliun. Sebanyak 167 saham naik, 80 saham turun, dan 89 saham stagnan. LQ-45 naik 0,41% ke level 695,02 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,03% ke level 562,36.

Indeks sektoral saham bergerak variatif dengan penguatan pada indeks properti yang naik 1,61% ke level 240,98; indeks perdagangan naik 1,44% ke level 629,88; indeks keuangan naik 1,03% ke level 503; indeks konsumer naik 0,89% ke level 1.334,07; indeks pertambangan naik 0,83% ke level 2.732,58; indeks industri dasar naik 0,55% ke level 419,22; dan indeks manufaktur naik 0,13% ke level 1.024,04. Sementara pelemahan pada indeks aneka industri yang turun 1,01% ke level 1.385,44; indeks infrastruktur turun 0,23% ke level 706,23; dan indeks perkebunan yang turun 0,21% ke level 2.132,81. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 5,67 miliar dengan total pembelian asing Rp 2,08 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,07 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Petrosea (PTRO) naik Rp 5.000 ke Rp 45.000, J Resources Asia Pasifik (PSAB) naik Rp 1.975 ke Rp 2.425, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.100 ke Rp 58.100, Indomobil Sukses Internasional (IMAS) naik Rp 800 ke Rp 15.800, United Tractors (UNTR) naik Rp 700 ke Rp 29.050, Sarana Menara Nusantara (TOWR) naik Rp 350 ke Rp 11.800, H.M Sampoerna (HMSP) naik Rp 300 ke Rp 42.800, Surya Essa Perkasa (ESSA) naik Rp 300 ke Rp 910, dan Samudra Indonesia (SMDR) naik Rp 225 ke Rp 4.200.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun pergerakan IHSG cenderung flat di awal perdagangan namun, masih bisa berada di area hijau setelah merespon pembukaan bursa saham Asia yang bergerak mix karena merespon positifnya bursa saham Eropa dan variatifnya bursa saham AS setelah data indeks perumahan dan consumer confidence index AS menunjukkan angka penurunan. Kemarin, telah listing perdana saham Surya Essa Perkasa (ESSA) yang mengalami kenaikan Rp 300 dari harga IPO di Rp 610. Selain itu, terdapat rilis inflasi sebesar 0,76% (MoM) dari bulan sebelumnya 0,57% yang dinilai masih relatif stabil. IHSG juga mendapat sentimen positif dari data manufaktur China yang menunjukan peningkatan. Adanya pemberlakuan pemisahan sub rekening dana nasabah dengan perusahaan efek yang kemarin mulai diberlakukan tidak terlalu signifikan mempengaruhi pergerakan pasar. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 3.965,32 (level tertingginya) menjelang akhir sesi 2 dan juga sempat menyentuh level 3.942,69 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.964,98. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.022/US$ dari sebelumnya di level Rp 9.000/US$. Pergerakan ini dipicu sikap mendatarnya investor terhadap rilis inflasi bulanan yang masih dinilai relatif stabil jauh di bawah 1% (secara YoY, turun ke level 3,65% dari sebelumnya 3,79%) sehingga membuka peluang kemungkinan dipertahankannya BI rate di level saat ini, 6,5%. Selain itu, tren penurunan kinerja ekspor yang melambat turun menekan Rupiah. Di sisi lain, Rupiah sempat menguat karena membaiknya kondisi eksternal setelah rentetan rilis data manufaktur dari China dan Eropa yang menunjukkan angka positif. PMI Manufacturing Index China dirilis di level 50,5 dari sebelumnya 50,3 dan dari prediksi 49,5. Begitupun dengan manufaktur Eropa yang dirilis naik jadi 48,8 dari sebelumnya 48,7 dan angka prediksi di level yang sama. Tak ketinggalan manufaktur Inggris dan Jerman juga menunjukkan angka yang positif. Kondisi ini diharapkan bisa memberikan harapan pemulihan ekonomi global.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak positif kecuali Hong Kong, China, Singapura, Bangladesh, dan Australia. Pergerakan dipicu respon positif investor terhadap rilis Purchasing Managers Index (PMI) resmi China yang naik ke 50,5 (Januari'12) dari 50,3 (Desember'11) atau di atas ekspektasi pasar 49,5. Hal ini menunjukkan bahwa tren perlambatan ekonomi secara bertahap menjadi stabil. Di sisi lain, juga dirilis Sub-index untuk order baru yang naik ke 50,4 pada bulan Januari dari 49,8 di bulan Desember. Sementara sub-index untuk order ekspor baru jatuh ke 46,9 dari Desember 48,6. Beredarnya kabar AS akan menghadapi downgrade lain sempat menekan pergerakan bursa saham Asia. Indeks Hang Seng dan Shanghai justru melemah setelah rilis data PMI tersebut karena investor menilai dengan naiknya data tersebut mengindikasikan ekonomi mulai bertumbuh sehingga tidak diperlukan adanya pelonggaran moneter untuk penyaluran lebih banyak kredit dengan tujuan menstimulus ekonomi. Di sisi lain, pelaku pasar justru mengharapkan adanya pelonggaran moneter yang lebih besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dari belum pulihanya perekonomian di Eropa. Dari Asia Pasifik, data yang dirilis diantaranya AIG Manufacturing Index Australia di level 51,6 dari sebelumnya 50,2; CPI (YoY) KorSel di level 3,4% dari sebelumnya 4,2%;
HIA New Home Sales (MoM) Australia di level -1% dari sebelumnya -1,9%; GDP (QoQ) Hong Kong di level 0,3% dari sebelumnya 0,1%; Trade Balance Indonesia di level US$ 860 juta dari sebelumnya US$ 1,84 miliar.

Bursa saham Eropa bergerak menguat kecuali Iceland. Pergerakan ini dipicu respon positif investor terhadap rilis data manufaktur di sejumlah negara Eropa, AS, dan China. Penguatan mendapat dukungan dari saham sektor perbankan dan pertambangan seiring pengumuman data manufaktur Uni Eropa. Kenaikan data PMI China untuk bulan Januari dinilai mengalahkan ekspektasi pasar. Di sisi lain, dari pertemuan informal para kepala negara dan pemimpin pemerintahan UE di Brussel telah menghasilkan perjanjian baru yang mengatur defisit anggaran yang tidak boleh melampaui 0,5% dari PDB nominal. Perjanjian mengenai kestabilan, koordinasi, dan Pemerintahan dalam Uni Ekonomi dan Moneter ini bertujuan untuk memperkuat disiplin fiskal melalui pengenalan sanksi otomatis dan pengawasan lebih ketat melalui Balanced Budget Rule. Negara anggota harus memasukkan Aturan Anggaran Berimbang ini ke dalam sistem hukum nasional mereka dengan tenggat waktu implementasinya paling lambat 1 tahun setelah berlakunya perjanjian. Jika tidak dilaksanakan dapat disusul dengan denda sampai 0,1% dari PDB yang nantinya akan dibayarkan ke Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM). Dari kesepekatan Yunani dan para kreditur, diketahui para kreditur akan menerima kupon obligasi sebesar 3,6% dari sebelumnya 4,25%. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Manufacturing PMI Perancis di level 48,5; Manufacturing PMI Jerman di level 51 dari sebelumnya 50,9; Manufacturing PMI Inggris di level 52,1 dari
sebelumnya 49,7; Manufacturing PMI Eropa di level 48,8 dari sebelumnya 48,7; dan CPI (YoY) di level 2,7%.

Bursa kawasan Amerika bergerak positif. Pergerakan ini dipicu respon negatif investor terhadap rilis manufaktur di sejumlah negara dan investor juga mengantisipasi IPO Facebook. Sektor finansial berhasil menguat dan memimpin kenaikan di antara sepuluh sektor lainnya. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Construction Spending (MoM) di level 1,5% dari sebelumnya 0,4%; ISM Manufacturing Index di level 54,1 dari sebelumnya 53,1; dan ISM Manufacturing Prices di level 55,5 dari sebelumnya 47,5.

Pada perdagangan Kamis (2/2) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.927-3.946 dan resistance 3.974-3.984. IHSG membentuk candle hammer dimana sebelumnya telah membentuk pola menyerupai bullish harami . Posisi candle sedikit di atas middle bollinger bands . MACD sedikit tertahan penurunannya dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic terlihat berupaya reversal menuju area overbought . Pergerakan positif dari Eropa dan AS diharapkan bisa mendukung laju penguatan IHSG hari ini.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads