OSK Nusadana: Kenaikkan IHSG Relatif Berat

OSK Nusadana: Kenaikkan IHSG Relatif Berat

- detikFinance
Kamis, 16 Feb 2012 09:45 WIB
Jakarta - IHSG bergerak sideways dan tutup di level yang sama dengan pembukaan pagi hari kemarin di level 3,953, dengan asing melakukan net sell sebesar Rp388 miliar dengan BBCA dan BBNI menjadi saham-saham yang palinbg banyak dilepas oleh asing. Hampir semua sektor terkoreksi, dan terjadi penurunan pada saham-saham bluechip. Meski demikian, beberapa sektor masih bergerak menguat seperti property dan pertambangan. Beberapa saham sektor batubara seperti ITMG, BUMI, ADRO dan HRUM masih menjadi penahan penurunan IHSG. Selain itu beberapa sektor consumer goods seperti CPIN dan GGRM juga masih menguat. ASII, TLKM dan sektor perbankan masih menjadi pendorong penurunan IHSG. Index mencatat transaksi yang normal, dengan value sebesar Rp 4.5 triliun dan volume sebanyak 7.1 juta lot.

Bursa Asia bergerak naik tinggi dimana Nikkei menguat +2.3%, Hang seng +2.14%, dan KOSPI turun +1.13%. Dari US dan Eropa, Dow Jones bergerak turun dan ditutup melemah 97 pts ke level 12,780. Sementara dari Eropa, beberapa bursa utama di benua bergerak mix. FTSE London dan Dax Jerman, masing-masing turun -0.13% dan +0.44%. Dari komoditas, harga Oil WTI masih bergerak naik dan diperdagangkan di harga US$101.8/brl. Harga timah dan bijih besi juga maing-masing menguat naik +1.0%. Sementara rupiah masih diperdagangkan di harga Rp9,061/US$.

Trading Ideas
ATPK Resources (ATPK) adalah perusahaan batubara yang mempunyai tambang di Kalimantan Timur. Perusahaan saat ini memproduksi batubara melalui dua anak usahanya, yaitu PT Mega Alam Sejahtera dan PT Sarana Mandiri Utama. PT Sarana Mandiri Utama memiliki nilai kalori batubara sekitar 4.800 hingga 5.200 kalori sedangkan PT Mega Alam Sejahtera sekitar 4.000 hingga 4.600 kalori. Batubara milik anak perusahaan ATPK Resources Tbk ini termasuk batubara berperingkat rendah yang cocok untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada tahun 2011 kemarin, perusahaan memproyeksikan untuk memproduksi batubara sebanyak 600 ribu ton sepanjang 2011, hingga november perusahaan sudah memproduksi batubara sebanyak 780 ribu atau 30% diatas proyeksi awal. Berdasarkan konfrensi pers yang dilakukan emiten menargetkan produksi batu bara dari kedua anak usaha perseroan pada 2012 dan 2013 diharapkan melonjak menjadi masing-masing 1,5 juta ton dan 1,8 juta ton, atau naik 3x lipat dibandingkan proyeksi awal 2011 yang sebesar 600 ribu ton. Peningkatkan target produksi batu bara ini seiring dengan membaik nya infrastruktur perusahaan dengan penyelesaian pembangunan prasarana dan sarana penambangan dan penambahan atau pembelian alat-alat produksi

Hingga januari kemarin (lihat attachement), ATPK sudah berhasil meningkatkan produksi per bulan nya hingga 98 ribu ton (+50%), dengan asumsi produksi sepanjang tahun stabil, maka total produksi untuk 2012 dapat mencapai 1.15 juta ton. Angka ini masih dibawah target perusahaan yang sebesar 1.5 juta ton. Ada indikasi bahwa ke depan nya, produksi bulanan perusahaan akan meningkat sering dengan membaik nya infrastruktur dan bertambah nya alat-alat produksi untuk meingkatkan produksi.

Dengan asumsi ATPK memproduksi batubara dengan kalori 4,000-5,200 maka harga jual batubara ATPK ada di range US$50-US$80 per ton. Asumsi produksi untuk tahun ini di level 850 ribu hingga 1.5 juta, maka skenario nya, PER untuk ATPK ada di range 5,3x hingga 1.3x. Saat ini, rata-rata PER industri untuk batubara ada di 9.8x, maka secara valuasi saham ATPK diperdagangkan di harga diskon, sehingga masih dapat mengalami penguatan yang cukup tinggi.

Technical view: Meskipun belum konfirm sepenuhnya indikator MFI Optimized top reversal, potensi kenaikkan makin terbatas. Sementara indikator RSI Optimized terlihat cenderung flat. Dengan gagalnya IHSG kemarin bertahan diatas level 3,965.60 diperkirakan kenaikkan IHSG selanjutnya juga relatif berat. Resistance terdekat diperkirakan di level 3,965.6 dan support di level 3,931.2 dengan daily risk saat ini sekitar level 40.87 %.
1. AKR Corporindo (AKRA), SoS
2. Bumi Serpong Damai (BSDE), SoS
3. Lippo Cikarang (LPCK), SoS

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads