Kenaikan harga BBM berpotensi meningkatkan angka inflasi domestik dan memotong prospek pertumbuhan laba emiten akibat kenaikan biaya energi. Sentimen ini telah menekan pergerakan harga saham sektoral yang sensitif terhadap tingkat inflasi (daya beli), seperti sektor otomotif dan konsumsi. Sebaliknya pelaku pasar terlihat kembali mengakumulasi saham-saham sektor tambang dan energi menyusul membaiknya kondisi Eropa yang berpeluang mengangkat harga sejumlah komoditas tambang dan energi. Investor asing di pasar saham kemarin mencatatkan net selling Rp.48,74 miliar. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan kemarin cenderung melemah ditransaksikan di Rp.9045/US dolar.
Untuk perdagangan hari ini pergerakan indeks diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi dan masih berpeluang menguat meskipun terbatas. Investor akan melakukan aksi beli selektif terutama ataa saham-saham sektoral yang merilis kinerja positif sepanjang 2011 lalu. Meskipun penguatan di pasar saham global tadi malam sedikit tertahan akibat sejumlah data ekonomi yang keluar dari Uni Eropa dan China kurang menguntungkan. Pertumbuhan sektor jasa di Uni Eropa Januari lalu mengalami pelemahan. Sedangkan indeks manufaktur China Januari lalu yang dikleuarkan oleh HSBC juga menunjukkan terjadinya kontraksi yakni di angka 48,8. Sedangkan untuk Februari, indeks manufaktur China berada di 49,7 (angka sementara). Indeks di bawah 50 menunjukkan terjadinya kontraksi. Saat ini pelaku pasar tengah menanti data ekonomi AS yang keluar pekan ini seperti angka jobless claims dan data penjualan rumah Januari yang diperkirakan meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG S1 3970 S2 3957 R1 4025 dan R2 4040
Saham Pilihan :
ASII 71500-74000 Buy on Weakness
BBRI 6800-7050 Trading Buy
ITMG 42800-45000 Trading Buy
PGAS 3725-3900 Sell on Strength
ENRG 191-198 Buy on weakness
INTA 800-890 Trading Buy
DEWA 87-98 Trading Buy
BRAU 475-550 Maintain Buy
CTRA 640-700 Hold
BBTN 1190-1250 Maintain Buy
(ang/ang)











































