OSK Nusadana: Saham Perbankan Declining

OSK Nusadana: Saham Perbankan Declining

- detikFinance
Rabu, 29 Feb 2012 09:37 WIB
Jakarta - IHSG rebound pada perdagangan kemarin dan ditutup naik 42 pts di level 3,903.5 (+1.1%), dengan asing tercatat masih melakukan penjualan bersih (net foreign sell) sebesar Rp369 miliar. Beberapa saham penggerak market antara lain; BMRI, ASII, GGRM, UNTR, dan TLKM, sementara EXCL, AKRA, UNVR, dan PTBA menjadi pemberat market pada perdagangan kemarin.

Dari US dan Eropa, Dow Jones bergerak positif dan kembali ditutup di level 13,005 (+0.18%). Sementara dari Eropa, beberapa bursa utama di benua tersebut sudah mulai menunjukan penguatan. FTSE London dan Dax Jerman, masing-masing rebound +0.21% dan +0.56%. Dari komoditas, harga Oil WTI mulai terkoreksi di harga nya di US$106.5/brl (-1.85%). Sementara rupiah masih diperdagangkan di harga Rp9,129/US$.

Trading Ideas

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Antara BBRI atau BMRI?

Banyak perdebatan mengenai saham mana yang saat ini lebih menarik untuk di akumulasi khusus nya antara 2 bank besar di Indonesia, yaitu BBRI dan BMRI. Saat ini sektor perbankan mengalami masa declining sejak performance mereka yang sangat bagus sepanjang 2009-2011. Mulai dari kasus dari kebijakan pemerintah untuk menurunkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) yang akan menekan earnings perusahaan, turun nya pendapatan dari Government Bond dari 6.3% pada awal menjadi 2% saat ini. Selain itu kasus hutang BLTA memberikan sentimen negatif terhadap sektor perbankan.

Berdasarkan hasil pembicaraan kami dengan para fund manager, khusus nya foreign, mereka saat ini lebih tertarik untuk mengkoleksi BBRI dibandingkan BMRI berdasarkan alasan-alasan yang disebutkan sebelum nya. Melihat industri nya yang lebih unik (Kredit mikro), BBRI dianggap lebih safe dibanding BMRI. Tapi, BMRI saat ini diperdagangkan diharga yang sangat murah dengan PBV hanya 2x.

Summary: BBRI lebih sedikit mendapatkan sentimen negatif dari permasalahan yang ada di dunia perbankan saat ini, dan lebih banyak di koleksi oleh foreign. Di satu sisi, secara valuasi BMRI adalah perbankan blue chip yang paling murah dan mempunyai upside potential yang lebih tinggi.

Press Release: Surya Semesta Internusa (SSIA)

Laba bersih konsolidasi SSIA di tahun 2011 meningkat secara signifikan, atau 122% dibandingkan laba bersih konsolidasi tahun 2010 yang tercatat sebesar Rp 116 miliar, yang terutama didukung oleh melonjaknya penjualan lahan industri serta pertumbuhan jasa konstruksi.

Seperti halnya pertumbuhan SSIA pada tahun 2010 lalu, maka pada tahun 2011 inipertumbuhan SSIA terutama didukung oleh prestasi yang mengesankan dari unitusaha kawasan industri yang dikelola oleh PT Suryacipta Swadaya (SCS), di mana selama tahun 2011 telah berhasil menjual lahan industri di Suryacipta City ofIndustry seluas 208 hektar dengan harga rata-rata penjualan sebesar +/- US$ 43 per m2 atau senilai Rp 798 miliar, dibandingkan penjualan tahun 2010 yang tercatat seluas 37 hektar atau senilai Rp 130 miliar.

Outlook 2012: SSIA mentargetkan di tahun 2012 ini dapat membukukan pendapatan sebesar Rp 3,2 triliun dan membukukan laba bersih Rp 550 miliar. Belanja modal SSIA untuk tahun 2012, diluar pembelian lahan industri baru,diperkirakan sebesar Rp 900 miliar, dimana 70% diantaranya akan digunakan untuk pengembangan fase 2 dan fase 3 serta commercial area di kawasan industri.

Sedangkan sisanya, sebesar 25% digunakan untuk perhotelan yaitu budget business hotel dan penyelesaian renovasi GMJ; 5% terakhir digunakan untuk pembelian alat-alat berat di unit usaha jasa konstruksi. Untuk pembiayaan belanja moda tersebut dan pembelian lahan industri baru, SSIA selain menggunakan dana internal, juga merencanakan untuk mengeluarkan obligasi di bulan Juni 2012. Pada saat ini sedang dilakukan persiapan untuk pengeluaran obligasi tersebut. Obligasi tersebut diperkirakan sekitar Rp 500 miliar. Target Price SSIA: Rp1,290

(dru/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads