OSK Nusadana: IHSG Masih Naik dengan Pola Terbatas

OSK Nusadana: IHSG Masih Naik dengan Pola Terbatas

OSK Nusadana - detikFinance
Selasa, 13 Mar 2012 09:18 WIB
Jakarta - IHSG masih belum berhasil untuk menembus kembali level psikologis nya di 4000. Pada perdagangan kemarin IHSG tutup di level 3,987.3 atau turun 4 pts (-0.11%). Penurunan ini antara lain disebabkan oleh laporan yang mengatakan bahwa tingkat ekspor China mencatatkan perlambatan pertumbuhan dibanding prediksi para analyst. Saham-saham yang menjadi top losers pada perdagangan kemarin antara lain adalah PTRO (-3,41%), IDKM (-2,9%), dan SCMA (-2,84%). Sementara yang menjadi top gainers adalah MASA (+8,2%), AKRA (+3,18%), dan BBRI (+3,1%). Sektor Finance dan basic industry (yang didominasi oleh sektor semen) masih menjadi penahan penurunan market kemarin. Dan meskipun terkoreksi, foreign masih mencatat net buy sebesar Rp459 milyar.

Sementara dari Regional bursa US dan Eropa relatif masih menguat, Dax Jerman naik +0.31%, FTSE London +0.09%, dan bursa US seperti Dow jones +0.29%. Penurunan pada bursa juga menekan harga-harga komoditas dimana oil WTI diperdagangkan di harga US106.5/brl (+0.2%), dan nilai tukar rupiah saat ini masih tertekan dan diperdagangkan di harga Rp9,122/US$

Trading Ideas
Tahun 2012 diperkirakan akan menjadi tahun nya Infrastructure dan Property. Kenaikan rating oleh Fitch dan Moody’s, dan disetujui nya UU Pemebebasan Lahan, diharapkan dapat meningkatkan pembangunan infrastrukur di berbagai sector dan meningkat nya demand terhadap property. Saham-saham berbasis Infrastruktur dan Property (selain consumer sector) juga menjadi saham-saham berpenggerak IHSG sejak awal tahun. JAKPROP Index (atau index saham-saham berbasis infrastruktur dan property) sudah naik sekitar +13% sejak awal tahun. Selain saham-aham yang berbasis kan Infratruktur dan Property, peningkatan dari industri tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan demand terhadap semen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penjualan semen selama Januari 2011 mencapai 4.1 juta ton, atau meningkat sebesar +15.2%, diatas perkiraan kami. Untuk 2012, konsumsi semen diperkirakan dapat mencapai 51 juta ton atau naik +7%.

Secara valuasi, khusus nya dilihat dari sisi Market cap, PER, dan ROE, kami masih merekomendasikan BUY untuk Indocement (INTP) dan Semen Gresik (SMGR), dan yang masih menjadi stock pick kita adalah SMGR. Saat ini SMGR mempunyai growth sales volume yang tinggi menyusul meningkat nya kapasitas produksi mereka.

Special Mention
Key Takeaways on ESSA: Tahun 2012 ini ESSA menargetkan kenaikan laba bersih naik 25%, dengan asumsi harga jual LPG sebesar USD675/ton (jauh dibawah harga jual pada 2011 yang sebesar USD842/ton). ESSA menjual LPGnya dengan harga internasional (link ke harga Saudi Aramco) dengan biaya pembelian gas yg relatif fixed sampai tahun 2022 (naik hanya 5 sen dollar setiap 5 tahun). Sementara saat ini, harga jual LPG di dunia sudah mencapai USD1230/ton, atau naik 67% dalam 5 bulan terakhir dikarenakan ketegangan di timur tengah, musim dingin di Eropa dan supply LPG yg kurang di kawasan Asia.. Melihat asumsi target harga penjualan nya yang konservatif, dan margin nya yang tinggi (margin 7M11 sekitar 72.8%), kami melihat masih ada kemungkinan peningkatan laba yang cukup tinggi oleh ESSA.

Alam Sutera (ASRI) melaporkan kenaikan laba sebesar 107%, didukung oleh kenaikan revenue sebesar 80%. Kenaikan ROE perusahaan pun meningkat dari 14% di 2010, menjadi 24% di 2011. BUY recommendation untuk ASRI dengan Target price di Rp610

Squawk on the market:
Eterindo Wahanatama (ETWA)
Pharmacies Company; INAF & KAEF

Technical view: IHSG jika mampu bertahan minimal di level 3,982.09 diperkirakan masih cenderung naik namun dalam pola terbatas. Resistance terdekat diperkirakan sekitar level 3,997.8 dan support di level 3,966.3. Dengan daily risk saat ini sekitar level 58.335 % serta kenaikan dari inidikator juga mulai tertahan meskipun belum konfirm sepenuhnya top reversal diperkirakan jika level 3,997.8 diatas tembus akan rawan terhadap pola distribusi.

1. Alam Sutera Realty (ASRI), Trading Buy
2. Ciputra Development (CTRA), BoW
3. Moderland Realty (MDLN), BoW

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads