Kiwoom Securities: Aksi Jual Masih Tinggi

Kiwoom Securities: Aksi Jual Masih Tinggi

Kiwoom Securities - detikFinance
Rabu, 05 Des 2012 08:46 WIB
Kiwoom Securities: Aksi Jual Masih Tinggi
Jakarta - Mixednya Dow Jones dan pasar regional dapat mempengaruhi sentimen di tengah naiknya harga batubara. IHSG bergerak negatif setelah mencoba beberapa level supportnya kemarin. Serta, cukup tingginya aksi jual asing masih dapat memberikan tekanan. Maka, kami memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran yang mixed hari ini.

Β 

Bakrie Group – Penentuan voting interest

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam audit investigatifnya, UK Takeover Panel tengah mengkaji proposal Bakrie Group yang diajukan kepada Bumi Plc. Regulator pasar modal Inggris tengah memeriksa apakah Bakrie Group, PT Borneo Lumbung Energi & Metal (BORN), dan Recapital merupakan satu kesatuan (concerted party) atau bukan. Apabila ditemukan fakta bahwa ketiga pihak tersebut merupakan satu kesatuan maka Rosan yang mewakili Recapital dan pihak BORN tidak memperoleh voting rights. Bakrie Group bersama dengan BORN masing-masing memiliki 23.8% saham Bumi Plc., sedangkan Rosan (melalui Recapital) dan Rothschild masing-masing memiliki 10% saham dan sisanya dimiliki publik. Bumi Plc. memiliki 29.2% saham PT Bumi Resources (BUMI) dan 84.7% saham PT Berau Coal Energy (BRAU).


IPO – Pelayaran Nasional Bina Buana Raya

PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya (BBR) berencana menerbitkan 600 juta lembar saham baru melalui proses IPO. Sekitar 42% dana hasil IPO akan dialokasikan untuk membeli 2 unit kapal anchor handling tug supply (AHTS), 51% untuk pembayaran utang, dan 7% sisanya untuk mendukung modal kerja. Masa penawaran awal berlangsung 5-14 Desember 2012 dengan perkiraan mendapat pernyataan efektif pada 21 Desember 2012 dan listing pada 9 Januari 2013.


IPO – Wismilak Inti Makmur

PT Wismilak Inti Makmur (WIM) menetapkan harga penawaran perdana Rp 650 per lembar dari kisaran penawaran Rp 575-800 per lembar saham. Dengan menjual 630 juta lembar saham (30% kepemilikan) maka perolehan dana mencapai Rp 409.5 Miliar. Sekitar 50% dana hasil emisi efek akan dialokasikan untuk mendukung belanja modal, 30% untuk modal kerja, dan 20% untuk pelunasan utang bank. WIM memiliki 3 unit pabrik dengan kapasitas produksi 3 miliar batang per tahun. Dengan 7 rokok kretek dan 1 produk cerutu, WIM memfokuskan kegiatan pemasaran di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sumatra Utara.


AUTO – Enam pabrik baru

PT Astra Otoparts (AUTO) berencana mengembangkan portofolio perusahaan dengan membangun enam Pabrik baru sepanjang tahun ini yang dimiliki oleh anak usahanya, PT Inti Ganda Perdana, PT Denso Indonesia Astra Juoku, PT Astra Nippon NHK, PT Velasto Indonesia, dan PT Autoplastik Indonesia. Pabrik milik Astra Nippon NHK yang berlokasi di Karawang telah beroperasi sejak Juni 2012 dan perusahaan menginvestasikan US$4 Juta untuk pembangunan pabrik tersebut. Sisa lima pabrik lainnya sedang dalam tahap pengerjaan dan ditargetkan beroperasi mulai tahun depan.


BIPP – Rights issue

PT Bhuwanatala Indah Permai (BIPP) berencana menerbitkan 1.13 miliar lembar melalui penerbitan HMETD. Rencana tersebut telah mendapat persetujuan RUPSLB 30 November lalu. Rights issue akan dilakukan dengan rasio 69:41 dengan harga pelaksanaan Rp 151 per lembar. Target perolehan dana senilai Rp 170.7 Miliar akan dialokasikan untuk mengakuisisi PT Tridaya Investindo.


DGIK – Perolehan nilai kontrak

PT Nusa Konstruksi Enjiniring (DGIK) berhasil mendapatkan kontrak senilai Rp 2.25 Triliun sepanjang Januari hingga November 2012. Nilai kontrak tersebut naik 196% dari perolehan kontrak di periode yang sama tahun lalu senilai Rp 759 Miliar. Beberapa kontrak baru didapatkan meliputi pekerjaan pembangunan apartemen, hotel, jalan, bendungan hingga infrastruktur PLTN. Kontrak baru memiliki periode pengerjaan antara satu setengah tahun sampai dua tahun mendatang dan diperkirakan akan berkontribusi langsung terhadap pendapatan perusahaan hingga 2014. Dengan perolehan kontrak hingga November 2012 maka nilai total kontrak DGIK mencapai Rp 3.35 Triliun.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads