Kiwoom Securities: Aksi Ambil Untung Bisa Hambat IHSG

Kiwoom Securities: Aksi Ambil Untung Bisa Hambat IHSG

- detikFinance
Kamis, 13 Des 2012 08:29 WIB
Kiwoom Securities: Aksi Ambil Untung Bisa Hambat IHSG
Jakarta - Pasar Asia masih dalam tren positif dapat mempertahankan sentimen pasar. IHSG kembali bergerak naik diikuti oleh adanya minat beli asing kemarin. Namun, adanya resistance serta potensi profit taking dapat memperlambat laju kenaikan ini. Sehingga, kami memperkirakan IHSG akan bergerak mixed di area yang positif untuk hari ini.



IPO – Multi Agro Gemilang Plantation

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PT Multi Agro Gemilang Plantation (MAGP) berencana menjual 4 miliar lembar saham baru (44.44% saham) dengan nilai nominal Rp 100 per lembar melalui proses IPO. MAGP merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang perkebunan sawit yang memiliki lahan di Kalimantan Barat, Aceh, dan Riau. Sekitar 48.1% dana hasil emisi obligasi akan dialokasikan untuk pembayaran kepada Bank Panin, 24.05% untuk penyertaan modal anak perusahaan PT Bosowa Megalopolis (yang juga akan digunakan untuk pembayaran utang Bosowa kepada Bank Panin), 15.83% untuk pengembangan kebun, 6.01% untuk penyertaan modal PT Brent Multidaya, dan 6.01% untuk penyertaan modal PT Bumi Orion Sawit Subur. Dana penyertaan modal kepada Brent dan Bumi Orion akan digunakan seluruhnya untuk pengembangan kebun. Bosowa memiliki ijin lokasi seluas 6,343 Ha di Aceh dan telah beroperasi sejak 2008 lalu sedangkan Brent dan Bumi Orion tercatat masing-masing memiliki ijin atas lokasi seluas 10,602 Ha dan 18,442 Ha yang masih dalam tahap pembebasan lahan. PT Brent Securities dan PT Valbury Asia Securities bertindak sebagai penjamin emisi. Masa penawaran awal berlangsung pada 12-18 Desember dengan perkiraan mendapat pernyataan efektif pada 28 Desember 2012.


ISAT & TBIG – Rencana penjualan kepemilikan di TBIG

PT Indosat (ISAT) berencana menjual kepemilikannya di PT Tower Bersama Infrastruktur (TBIG). Manajemen ISAT menegaskan akan melepas 5% kepemilikan saham TBIG mulai Agustus 2013 setelah lock-up period atau periode yang melarang terjadinya perubahan kepemilikan berakhir. Lock up periode ini adalah konsekuensi setelah ISAT membeli saham baru non-HMETD TBIG. ISAT memiliki 5% atau setara 239.82 juta saham TBIG sebagai bagian dari penjualan 2,500 menara ISAT ke TBIG. TBIG menerbitkan saham baru dengan harga Rp 2,757 per saham. Dana penjualan saham TBIG akan digunakan oleh ISAT untuk melunasi sebagian utangnya. Per 30 September 2012 total utang ISAT mencapai Rp 21.84 Triliun.


LPPF – Rencana refloat saham oleh Asia Color

Pemilik saham PT Matahari Department Store (LPPF), Asia Color Company Ltd (ACC) akhirnya melaksakan kewajiban menjual saham ke pasar atau refloat dengan mekanisme private placement. Asia Color akan menjual sekitar 40% kepemilikan sahamnya pada investor strategis. Manajemen LPPF berharap dengan adanya private placement ini likuiditas LPPF akan meningkat dan mendapatkan keringanan pajak. Selain itu, LPPF akan lebih mudah menghimpun dana dari pasar modal. LPPF tidak menyebutkan harga private placement tersebut. Namun harga tender offer Asia Color di tahun 2010 sebesar Rp 2,706 per saham dan harga tersebut lebih tinggi dari harga pasar saat ini Rp 2,700 per saham.


MEDC – Rencana emisi obligasi

PT Medco Energi Internasional (MEDC) berencana menerbitkan obligasi senilai total Rp 4.5 Triliun dimana untuk tahap I akan diterbitkan obligasi senilai Rp 500 Miliar. Obligasi tersebut bertenor 5 tahun dengan tingkat kupon 8.8% per tahun. Pefindo memberi peringkat idAA- terhadap rencana emisi obligasi MEDC. Masa penawaran berlangsung pada 13-14 Desember dengan pencatatan pada 20 Desember. Seluruh dana hasil emisi obligasi akan dialokasikan untuk pembayaran sebagian atau seluruh MTN yang akan jatuh tempo tahun ini dan tahun depan.


SDRA – Rencana merger dengan Woori

PT Bank Saudara (SDRA) direncanakan akan digabungkan dengan Bank Woori Indonesia (BWI) dengan menunggu persetujuan Bank Indonesia. Melalui merger ini, BWI berencana memperkuat sector bisnis retail melalui jaringan SDRA sedangkan SDRA mengandalkan kekuatan modal, infrastruktur dan manajemen resiko yang baik dari BWI.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads