Selama pekan ini IHSG sebenarnya mengalami beberapa sentimen negatif dan positif. Masih cerahnya sektor properti menjadi penopang indeks. Namun tingginya asumsi inflasi dalam APBN membuat adanya kekhawatiran jika hal tersebut akan berimbas ke kenaikan tingkat suku bunga. Padahal trend bunga kredit mikro sedang mengalami penurunan. Selain itu Bank Indonesia juga merilis prediksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2013 yang hanya sebesar 5,9% - 6,1%. Prediksi ini turun jika dibandingkan dengan kuartal 1 dimana BI memprediksikan perumbuhan ekonomi 6,2%. Realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal 1 hanya sebesar 6,02%. Namun BI memprediksi bulan Mei ini berpotensi mengalami deflasi hingga sebesar 0,09%.
Selain itu adanya wacana pembatasan import batubara yang digulirkan pemerintah China menekan sektor tambang batubara. Dari dalam negeri pemerintah juga mencanangkan akan menaikkan pajak royalti dari tambang batubara yang memiliki Ijin Usaha Pertambangan (IUP). Sektor batubara sepertinya masih akan tertekan jika wacana-wacana ini terus berlanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara sederhana saya dapat menyimpulkan indeks masih akan mengalami aksi profit taking. IHSG menempati posisi kinerja terbaik ketiga setelah bursa Jepang dan Filipina. Filipina saat ini merupakan pesaing berat Indnesia dalam menarik investasi asing. Pertumbuhan ekonomi Filipina mencapai 7,8% lebih tinggi dari China 7,7% dan Indonesia 6,02%.
Aksi profit taking masih akan mewarnai pergerakan IHSG ke depan. IHSG diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. IHSG berpotensi menguji support di 5000. Secara teknikal IHSG berpotensi mengalami koreksi. Indikator MACD sudah death cross. Indikator RSI sudah keluar dari area overbought dan mengalami downtrend. Selain itu penutupan IHSG kemarin berada di bawah support MA 20d.
IHSG 5000 - 5130
Saham Pilihan
ASRI 1030 - 1090 Spec Buy
ASSA 360 - 410 Spec Buy
BBTN 1360 - 1470 Spec Buy
CMNP 2150 - 2500 Sell on Strength
MNCN 3200 - 3400 Spec Buy
(dru/dru)











































