Jakarta - Penguatan selama beberapa hari terakhir tampaknya harus tertahan untuk sementara waktu. Meski telah diputuskan bahwa harga BBM akan dipastikan naik namun, pelaku pasar masih menunggu kepastian selanjutnya terutama dari waktu pelaksanaan kenaikan harga tersebut. Di sisi lain, aksi wait & see di bursa saham Asia jelang pertemuan The Fed pada Rabu(19/6) waktu AS turut berimbas pada laju IHSG. Meski banyak pihak optimis dengan kelanjutkan kenaikan namun, penguatan IHSG hanya bertahan di sesi awal dan selebihnya mulai menurun. Ditambah lagi dengan asing yang masih jualan membuat IHSG harus menyerah dan meninggalkan zona hijaunya. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4880,40 (level tertingginya) di awal sesi 2 dan menyentuh level 4809,69 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan berakhir di level 4806,66. Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik terbantukan dengan adanya transaksi crossing saham BNII di harga RP300 senilai Rp1,798 triliun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pada perdagangan Kamis (20/6) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4785-4810 dan resistance 4835-4895. Berpola menyerupai shooting star di bawah middle bollinger bands (MBB). MACD bergerak naik dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic naik terbatas meski di atas area oversold. Laju IHSG yang berada di atas target support kami (4785-4805) namun, gagal bertahan di atas target resisten kami (4855-4873) memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih menahan diri. Aksi antisipasi pertemuan The Fed ini bisa saja membuat IHSG melemah jika tidak ada hal positif yang dihasilkan. Untuk itu, tetap cermati dan waspadai sentimen yang ada yang dapat membalikkan kondisi pasar.
(ang/ang)