Jakarta - Adanya berita positif dari Moody’s yang menaikkan outlook peringkat Indonesia dari stabil menjadi positif tampaknya tidak serta merta diikuti dengan kenaikan signifkan IHSG. Laju IHSG IHSG pun masih latah terimbas laju variatif bursa saham Asia, terutama laju HSI. Berita negatif dari krisis likuiditas yang terjadi di China turut mewarnai pasar. Tidak hanya masalah di China, dari sisi internal pun juga mempengaruhi laju IHSG yang terutama dari dampak kenaikan harga BBM yang merembet ke kenaikan biaya transportasi dan harga bahan pangan sehingga menimbulkan kekhawatiran secara psikologis terhadap lonjakan inflasi. Akan tetapi, seiring mulai menghijaunya bursa saham Eropa, IHSG mulai mencoba untuk rebound meski belum kembali menyentuh level tertinggi di awal sesi. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4496,55 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4373,38 (level terendahnya) di akhir sesi 1 dan berakhir di level 4515,37. Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pada perdagangan Rabu (26/6) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4350-4400 dan resistance 4468-4500. Berpola menyerupai three black crows menyentuh lower bollinger bands (LBB). MACD melanjutkan penurunan dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di sekitar area oversold. Meski IHSG sempat berada di bawah target support kami (4405-4415) namun, akhirnya mampu ditutup di atas target tersebut. Diharapkan laju pelemahan IHSG mulai dapat terbatas yang diiringi dengan mulai berkurangnya aksi jual sehingga masih memungkinkan adanya peluang rebound walau tipis.
(ang/ang)