Jakarta - Sempat bergerak positif dan diharapkan dapat melanjutkan penguatannya namun, tampaknya IHSG tak kuasa menahan aksi jual dari para pelaku pasar, terutama lokal. Asing yang tercatat nett buy tipis juga tidak mampu menjaga IHSG untuk bertahan di zona hijaunya. Variatifnya bursa saham Asia setelah merespon rilis data di China membuat mood pelaku pasar kembali berubah. Selain itu, pelaku pasar pun akhirnya menyadari bahwa laju Rupiah makin terperosok kian dalam sehingga menimbulkan ekspektasi bahwa BI akan menaikkan kembali BI rate dan akan mengganggu kinerja dari emiten yang memiliki eksposur biaya dalam US$. Begitu pun dengan adanya berita kenaikan suku bunga untuk kartu kredit menambah sentimen negatif. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4779,34 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4677,89 (level terendahnya) jelang pre closing dan berakhir di level 4718,10. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pada perdagangan Kamis (25/7) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4658-4686 dan resistance 4748-4789. Berpola menyerupai dark cloud di atas middle bollinger bands (MBB). MACD naik terbatas dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai terbatas kenaikannya di area overbought. Setelah sempat berada pada rentang resisten kami (4775-4788) namun, gagal bertahan dan memilih untuk mendekam di kisaran support kami (4686-4725) yang memperlihatkan mulai adanya tekanan jual. Meski pola yang terbentuk mengindikasikan adanya potensi pelemahan namun, diharapkan rilis data-data di Eropa mampu memberikan angin positif yang dapat berimbas pada rebound-nya IHSG.
(ang/ang)