Jakarta - Meski di awal sesi, IHSG mampu bergerak menguat namun, sepanjang sesi perdagangan diiringi dengan aksi profit taking sehingga IHSG banyak menghabiskan waktu di zona merah. IHSG terkepung dalam sentimen negatif. Rilis laporan keuangan emiten dalam negeri pun variatif sehingga tidak cukup kuat mengimbangi variatifnya laju bursa saham Asia seiring aksi wait & see terhadap hasil meeting The Fed. Pelemahan juga terimbas dari penurunan outlook Malaysia dan India oleh Fitch Ratings sehingga menimbulkan spekulasi Indonesia dimungkinkan bisa terkena pemangkasan. Akan tetapi, jelang penutupan aksi beli kembali terjadi sehingga kembali mengantarkan IHSG ke zona hijau. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4636,05 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4563,14 (level terendahnya) di akhir sesi 1 dan berakhir di level 4610,38. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pada perdagangan Kamis (1/8) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4588-4602 dan resistance 4635-4645. Berpola menyerupai hammer di bawah middle bollinger bands (MBB). MACD masih bergerak turun dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih menjauhi area overbought. Suasana negatif membawa IHSG berada di bawah target support (4588-4602) meskipun sempat berada sebentar di atas target resisten 1 (4636). Sentimen masih akan variatif. Kalaupun bursa saham AS bisa positif karena keputusan The Fed, IHSG belum tentu karena akan berhadapan dengan rilis inflasi. Sementara kita targetkan inflasi Juli sebesar 2,3%-2,5% MoM.
(ang/ang)