Kiwoom Securities: Turunnya Bursa Dunia Beri Sentimen Negatif

Kiwoom Securities: Turunnya Bursa Dunia Beri Sentimen Negatif

Kiwoom Securities - detikFinance
Selasa, 20 Agu 2013 08:35 WIB
Kiwoom Securities: Turunnya Bursa Dunia Beri Sentimen Negatif
Jakarta - Relatif turunnya bursa dunia serta sentimen negatif pada data ekonomi dapat memberikan tekanan. IHSG masih bergerak cukup negatif dengan menembus beberapa level supportnya kemarin. Serta, penutupan di bawah level terendah sebelumnya juga mengindikasikan potensi yang bearish. Oleh karena itu, kami memperkirakan IHSG masih akan melanjutkan pelemahan hari ini.



APLN – Akuisisi lahan

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PT Agung Podomoro Land (APLN) melalui anak usaha dengan kepemilikan 70%, PT Alam Makmur Indah, mengakuisisi lahan seluas 216 Ha di Karawang, Jawa Barat dengan total nilai transaksi mencapai Rp 502 Miliar dan APLN berencana mengembangkan kawasan industri. Tahun lalu, APLN mengakuisisi kawasan industri seluas 342 Ha di Karawang namun di lokasi yang berbeda. APLN menargetkan kedua kawasan industri di Karawang akan mulai dibangun pada awal 2014. Sebelumnya APLN melalui anak usahanya, PT Buana Surya Makmur, mengakuisisi lahan seluas 26.6 Ha di Bandung, Jawa Barat dengan nilai akuisisi sekitar Rp 85 Miliar dan akan akan dibangun perumahan kelas menengah

Β 

BACA – Rencana rights issue dan waran

PT Bank Capital Indonesia (BACA) akan menggelar rights issue dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dengan menjual 2 miliar saham pada harga Rp 102 per saham dan BACA menargetkan meraih dana sekitar Rp 204 Miliar. Pemegang 537 unit saham lama berhak memiliki 236 unit saham baru. Selain rights issue, BACA juga menerbitkan 1.59 miliar unit waran seri II dengan harga pelaksanaan Rp 100 per unit. BACA akan menggunakan dana hasil rights issue dan penerbitan waran untuk modal kerja.

Β 

KRAS – Dampak depresiasi Rupiah

Direktur Utama PT Krakatau Steel (KRAS) mendesak Pemerintah untuk melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi kurs tukar Rupiah terhadap US$. Hal tersebut ditujukan untuk mempertahankan kinerja industri baja nasional yang kondisinya semakin memburuk akibat kenaikan bahan baku yang masih banyak diimpor. Harga baja dunia bergantung pada ekonomi Cina. Setiap penurunan 1% GDP Cina diperkirakan turut menekan 24% permintaan baja dunia.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads