Jakarta - Apa yang menjadi harapan kami dimana kenaikan sebelumnya dapat bertahan sehingga dapat memperbaiki laju tren IHSG dan tidak dimanfaatkan untuk profit taking tidak terjadi. Imbas dari melemahnya pasar saham AS dan Eropa serta diikuti oleh pasar saham Asia yang masih melanjutkan laju negatifnya membuat IHSG ikut terpengaruh melemah. Bahkan masih longsornya nilai tukar Rupiah juga membuat pelaku pasar kembali menjauhi pasar. Meski terdapat pemberitaan adanya himbauan kepada BUMN untuk melakukan buyback sahamnya, belum cukup ampuh menahan aksi jual karena di sisi lain adanya komentar Presiden SBY bahwa berat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6,3% sehingga harapan untuk melanjutkan rebound kembali terhalangi. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4192,18 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4107,65 (level terendahnya) jelang akhir sesi 1 dan berakhir di level 4171,41. Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi jeli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pada perdagangan Jumat (23/8) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4060-4122 dan resistance 4215-4225. Berpola menyerupai double lower spinning di bawah lower bollinger bands (LBB). MACD masih turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih mencoba upreversal dari bawah area oversold. IHSG kembali bergerak ke target support kami (4132-4205). Penguatan di tengah tren pelemahan memang acapkali dimanfaatkan untuk profit taking sesaat namun, dengan adanya pergerakan positif jelang akhir sesi Kamis (22/8) diharapkan bisa berlanjut pada sesi Jumat(23/8). Pun minimal jika pelemahan masih ada maka diharapkan bisa mulai terbatas.
(ang/ang)