IPO – PT Capitol Nusantara Indonesia
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IPO – PT Asuransi Mitra Maparya
PT Asuransi Mitra Maparya, anak usaha PT Kalbe Farma (KLBF), akan menjual maksimal 402.78 juta saham (29% saham) melalui proses IPO. Asuransi Mitra juga akan menawarkan waran seri I 402.78 juta unit (32.22%). Perseroan menargetkan perolehan dana dari IPO sekitar Rp 150 Miliar. Sekitar 65% dana hasil IPO untuk membuka cabang, 15% untuk peningkatan teknologi, 10% untuk peningkatan kompetensi dan sisanya untuk promosi dan marketing. Masa penawaran awal berlangsung 19-27 Desember 2013 dengan perkiraan mendapatkan pernyataan efektif 31 Desember 2013, masa penawaran umum 3-9 Januari 2014 dan listing pada 16 Januari 2014. Kresna Graha Sekurindo (KREN) bertindak sebagai penjamin emisi efek.
BNLI – Rencana emisi obligasi
PT Bank Permata (BNLI) telah mendapat pernyataan efektif terkait rencana emisi obligasi senilai total Rp 7 Triliun, dimana untuk tahap pertama akan diterbitkan obligasi konvensional senilai maksimum Rp 1.5 Triliun dan obligasi subordinasi senilai Rp 1 Triliun. Obligasi konvensional terdiri dari dua seri dimana Seri A senilai Rp 590 Miliar bertenor 370 hari menawarkan kupon 10% dan Seri B senilai Rp 672 dengan tenor 3 tahun dan kupon 10.5%. Kedua seri obligasi konvensional senilai total Rp 1,262 Miliar akan dijamin secara full commitment oleh para underwriter dan sisanya akan dijamin secara best effort. Obligasi subordinasi berjangka waktu 7 tahun dengan kupon 12%, dimana Rp 834 Miliar dijamin secara full commitment dan sisanya secara best effort. Obligasi konvensional mendapat peringkat idAA+ dari Pefindo sedangkan obligasi subordinasi mendpat peringkat idAA. Seluruh dana hasil emisi obligasi konvensional akan digunakan untuk mendukung penyaluran kredit. Sebesar Rp 800 Miliar dana hasil emisi obligasi subordinasi akan dialokasikan untuk penyertaan modal pada PT Astra Sedaya Finance (ASF) dan sisanya untuk mendukung penyaluran kredit.
TPIA – Kaji opsi pendanaan
PT Chandra Asri Petrochemical (TPIA) tengah mengkaji berbagai opsi pendanaan untuk mendukung rencana pembangunan pabrik karet sintetis pertama di Indonesia dengan nilai mencapai US$ 435 Juta. Proyek tersebut akan dikerjakan oleh PT Synthetic Rubber Indonesia, suatu perusahaan hasil joint venture antara PT Petrokimia Butadie Indonesia (anak perusahaan) dengan Compagnie Financiere Groupe Michelin (Prancis). TPIA akan memasok kebutuhan bahan baku karet sintetis melalui pengembangan hutan tanaman industri (HTI) diatas lahan seluas 50,000 Ha di Jambi dan Kalimantan. Proses pembangunan pabrik diperkirakan membutuhkan waktu 18 bulan dan akan dimulai pada 2015.
(ang/ang)











































