Penguatan IHSG sejak awal tahun ini terutama ditopang membaiknya kondisi makro ekonomi Indonesia seiring dengan keberhasilan otoritas moneter dan pemerintah mengurangi defisit transaksi berjalan kuartal empat 2013 lalu. Ini berimbas pada penguatan nilai tukar rupiah atas dolar AS hingga hampir 4% di Rp11792 (21/2) sejak awal tahun. Sementara Wall Street akhir pekan lalu terkoreksi tipis. Indeks DJIA dan S&P masing-masing terkoreksi 0,19% ditutup di 16103,30 dan 1836,25. Sepekan indeks DJIA dan S&P masing-masing terkoreksi 0,32% dan 0,13%. Koreksi Wall Street sepekan terutama dipicu data ekonomi AS yang keluar kurang menggembirakan seperti data penjualan rumah Januari turun 5% lebih tinggi dari ekspektasi turun 3,5%. Namun indeks manufaktur AS Februari berhasil naik ke 56,7 di atas perkiraan 53,6. Ini membuat koreksi relatif terbatas. Data ekonomi AS yang kurang menggembirakan tersebut memicu kenaikan harga emas hingga 7% sepanjang awal tahun ini hingga USD3123,6/t.oz.
Memasuki perdagangan awal pekan terakhir Februari, IHSG diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren penguatannya menguji resisten psikologis di 4700 yang belum pernah tertembus sejak 20 September 2013 lalu. Namun mengingat secara technical IHSG sudah berada di area overbought, terjadinya technical corretion semakin berpeluang terjadi. Sentimen individual emiten terutama terkait rilis laba 2013 akan menjadi katalis pergerakan IHSG.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Saham Pilihan
JSMR 5325-5700 TB, SL 5250
PGAS 4900-5100 BoW, SL 4870
ASRI 560-620 BoW, SL 530
ADHI 2150-2500 TB, SL 2100
BSDE 1550-1640 TB, SL 1500
BBTN 1120-1200 TB, SL 1060
CTRS 1970-2100 TB, SL 1900
(ang/ang)











































