Jakarta - Kenaikan pada 2 hari terakhir tampaknya tidak cukup kuat mempertahankan IHSG di zona hijau. Entah kebetulan atau tidak karena pelemahan terjadi pada hari kejepit dan kebetulan akhir pekan sehingga tentunya akan timbul hasrat untuk jualan. Padahal laju bursa saham Asia bergerak variatif cenderung menguat dan terutama rilis data-data dari dalam negeri berupa inflasi dan neraca perdagangan sesuai dengan estimasi sehingga pada dasarnya tidak terlalu memberikan sentimen negatif untuk IHSG. Apalagi asing juga kembali mencatatkan nett buy. Begitupun dengan kenaikan HSBC manufacturing PMI Indonesia juga belum mampu mengangkat kembali IHSG ke zona hijaunya. Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4858,91 (level tertingginya) jelang akhir sesi 1 dan menyentuh level 4835,20 (level terendahnya) pada mid sesi 2 dan berakhir di level 4838,76. Volume perdagangan naik dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pada perdagangan Senin (5/5) IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 4828-4832 dan resisten 4846-4868. Shooting star dekati middle bollinger band (MBB ). MACD masih menurun dengan histogram negatif yang memendek. RSI, Stochastic, dan Williamβs %R masih mencoba berbalik naik. Laju IHSG dapat bertahan di atas kisaran target support (4815-4830) namun, sempat juga berada di dalam target resisten (4850-4868). Pergerakan IHSG diperkirakan masih akan bervariatif cenderung melemah jika tidak ada sentimen positif yang mampu membawa kembali IHSG ke zona hijau. Persiapkan kemungkinan terburuk jika rilis data manufaktur China dan GDP Indonesia tidak sesuai harapan.
(ang/ang)