Masih adanya kekhawatiran peningkatan harga minyak mentah dunia akan mengganggu asumsi APBN yang nantinya dapat mempengaruhi outlook pertumbuhan Indonesia membuat laju rupiah susah beranjak dari zona merahnya. Di sisi lain, penilaian akan terganggunya neraca perdagangan dan ekspektasi akan membesarnya defisit neraca perdagangan dan diiringi dengan kembali meningkatnya yield obligasi pemerintah, terutama imbal hasil lelang SBSN yang juga meningkat, turut menambah sentimen negatif. Laju rupiah diperkirakan di bawah level support Rp 11.826 per dolar AS.
Laju bursa saham Asia kembali menunjukkan variatifnya. Nikkei menguat setelah investor menyambut baik kerangka kerja pemerintah untuk pelaksanaan reformasi ekonomi. Sementara HSI dan bursa saham Tiongkok lainnya melemah setelah merespon penurunan pertumbuhan foreign direct investment (FDI), tingginya tingkat utang swasta, dan penurunan penjualan rumah sebesar 9,2%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(hds/hds)











































