Masih berlanjutnya penguatan Yen membuat laju US$ terlihat melemah sehingga dimanfaatkan pelaku pasar untuk beralih terhadap Yen dan beberapa mata uang emerging market, termasuk Rupiah. Tentu saja, sentimen tersebut membuat laju Rupiah kembali terapresiasi. Di sisi lain, masih cenderung melemahnya harga minyak mentah dunia membuat persepsi akan beban defisit neraca perdagangan dapat diminimalisir. Laju Rupiah di atas level support 11995. Diharapkan masih adanya sentimen positif untuk membuat Rupiah melanjutkan kenaikannya. Rp11979-11970 (kurs tengah BI).
Turunnya indeks manufaktur Jepang yang dibarengi dengan rilis pidato PM Jepang, Shinzo Abe, bahwa pemerintahannya bersama BoJ akan menjaga nilai Yen dan mencermati dampak pelemahan Yen terhadap perekonomian lokal membuat nilai Yen melanjutkan penguatan dan membuat Nikkei melemah namun, tidak terlalu berimbas pada laju bursa saham China yang mampu melanjutkan positif seiring spekulasi rendahnya produksi batubara dapat meningkatkan harganya. Sentimen ini membuat laju saham-saham pertambangan bergerak positif.
Laju bursa saham Eropa mampu berbalik positif seiring rilis kenaikan IFO business climate Jerman dan consumer confidence Italia. Setidaknya rilis tersebut dapat mengimbangi sentimen dari pelemahan rilis indeks manufaktur sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Kamis (25/9) IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5159-5169 dan resisten 5188-5210. Inverted hammer di area middle bollinger band (MBB ). MACD masih mendatar dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, Stochastic, dan William’s %R melanjutkan penurunan. Laju IHSG di kisaran target support (5172-5179) dan sempat bergerak di kisaran target resisten (5192-5207). Pergerakan anomali tersebut mengurangi potensi IHSG untuk berbalik arah menguat. Namun demikian, diharapkan pelemahan yang terjadi dapat positif.
(ang/ang)











































