IHSG pada perdagangan 27 Oktober 2014 ditutup di level 5,024.29 melemah 48.78 point (0.96%), namun asing mencatat net buy Rp 673.9 Miliar.
Indeks Dow Jones pada perdagangan 27 Oktober 2014 ditutup di level 16,817.94 naik tipis 12.53 point (0.07%) . Penurunan harga minyak mentah WTI di bawah level US$ 80 per barel sangat berpengaruh pada turunnya harga saham energi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan Bahan Bakar Minyak bersubsidi, dalam jangka pendek akan memicu inflasi dan menimbulkan dampak negatif bagi pergerakan harga saham di bursa. Namun dalam jangka menengah - panjang, kenaikan BBM subsidi ini memberikan dampak positif, memperbaiki current account deficit di Indonesia sehingga membuat nilai tukar rupiah membaik kembali, dan dalam jangka panjang pemerintahan yang baru akan memiliki modal lebih untuk melaksanakan program-programnya.
Minggu ini juga masih akan ada beberapa laporan keuangan yang dirilis oleh perusahaan. Untuk jangka menengah, dari regional, pasar mulai mengkawatirkan perlambatan perekonomian di China dan Eropa. Perlambatan perekonomian di China khususnya dapat kembali menekan sektor batubara.
Dalam jangka pendek IHSG berpotensi menguji area suport sekitar 4850-4900 jika terjadi kenaikan BBM. Namun dalam jangka panjang, IHSG masih berpotensi menguji area resisten 5200 dan bahkan 6000 untuk rentang waktu 1 tahun.
Untuk trading jangka pendek, pilihan saham pada 28 Oktober 2014 : CSAP 600-700, CTRS 2330-2450, GGRM 56000-57500, GIAA 500-540, INDX 280-320. KARW lampaui target #kopipagi 24 dan 27 Okt, potensi uji resisten 500.
Sedangkan sektor yang akan bergairah tahun depan adalah sektor infrastruktur, di mana pemerintahan yang baru akan lebih memberi perhatian pada sektor ini.
Beberapa saham pilihan untuk jangka menengah - panjang misalnya INTP, SMGR, ADHI, WIKA, WSKT. Untuk sektor konsumer goods, KLBF, UNVR masih layak dilirik untuk investasi.
(ang/ang)











































