Meski demikian untuk jangka pendek, tekanan inflasi hingga akhir tahun ini diperkirakan akan melonjak yang diperkirakan bisa mencapai 7,2% dari posisi Oktober sebesar 4,8% (YTD). Terkait dengan lonjakan inflasi ke depan ini, kemarin Bank Indonesia (BI) secara tak terduga, menaikkan tingkat bunga acuan sebesar 25 bp menjadi 7,75%. Kebijakan pengetatan likuiditas ini kembali akan menekan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun arus dana asing diperkirakan tetap positif. Kemarin di pasar saham asing mencatatkan nilai pembelian bersih Rp243,67 miliar.
Sementara Wall Street tadi malam melanjutkan tren bullish. Indeks DJIA dan S&P mencatatkan level tertinggi baru masing-masing menguat 0,23% dan 0,51% ditutup di 17687,82 dan 2051,80. Kenaikan ini terutama ditopang saham sektor farmasi merespon langkah akuisisi Actavis terhadap Allergan. Data perumahan AS yang tercermin dari meningkatnya NAHB Housing Market Index November yang naik ke 58 di atas perkiraan 55 turut memberikan sentimen positif. Dari zona Euro sentimen positif dipicu sentimen ekonomi Jerman yang melonjak mencapai 11,5 dari perkiraan hanya 0,9.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(ang/ang)











































