Laju Rupiah berbalik negatif yang terimbas pelemahan Yen. Di sisi lain, ekspektasi akan kenaikan suku bunga The Fed membuat US$ bergerak menguat dan memanfaatkan pelemahan Yen. Meski belum akan dinaikan dalam waktu dekat namun, dari pertemuan The Fed pelaku pasar mengasumsikan rencana The Fed yang akan segera direalisasikan. Laju Rupiah di bawah level support 12.135. Tampaknya ekspektasi akan kenaikan lanjutan Rupiah akan terhalangi dengan menguatnya laju US$. Rp 12.174-12.158 (kurs tengah BI).
Ekspektasi akan menangnya Abe dalam pemilu yang dipercepat dan berkurangnya defisit perdagangan Jepang membuat nilai Yen masih bergerak turun. Pelaku pasar melihat akan kemenangan tersebut membuat rencana Abe untuk menambah stimulus segera dapat terealisasi. Laju Nikkei dan Topix bergerak menguat merespon kondisi tersebut. Rilis penurunan HSBC manufacturing PMI China direspon negatif sejumlah bursa saham China dan sekitar. Bursa saham Asia lainnya pun ikut terkena pelemahan yang juga terimbas pelemahan bursa saham AS.
Turunnya PPI Jerman yang dibarengi penurunan kegiatan manufaktur Jerman a.l markit service PMI, markit comp PMI, dan markit manufacturing PMI memberikan sentimen negatif. Rilis data yang sama juga terjadi untuk kegiatan manufaktur Zona Euro; turunnya industrial sales & orders; dan variatifnya rilis kegiatan manufaktur Perancis dimana markit service PMI dan markit comp PMI nya mengalami kenaikan namun, markit manufacturing PMI nya menurun tidak mampu menahan aksi jual yang terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Jumat (21/11) IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5055-5068 dan resisten 5100-5132. Separating lines di bawah area upper bollinger band (UBB ). MACD kembali terbatas dengan histogram positif yang mendatar. RSI, Stochastic, dan William’s %R mulai berkurang peningkatannya. Laju IHSG gagal mendekati di target resisten (5132-5145) dan lebih banyak di area target support (5090-5105). Utang gap 5102-5111 sebelumnya tersisa telah lunas. Tetapi, masih maraknya sentimen negatif dari sejumlah bursa saham global membuat laju IHSG cenderung tertekan dan masih menyimpan potensi pelemahan lanjutan.
(ang/ang)











































