Woori Korindo Securities: Laju IHSG Berpotensi Tertahan

Woori Korindo Securities: Laju IHSG Berpotensi Tertahan

- detikFinance
Selasa, 02 Des 2014 08:05 WIB
Woori Korindo Securities: Laju IHSG Berpotensi Tertahan
Jakarta - Dalam ulasan sebelumnya kami sampaikan laju pergerakan IHSG diperkirakan tidak banyak mengalami perubahan. Apalagi dengan akan dirilisnya data-data makro membuat pasar cenderung tertahan dan berpotensi kembali melemah jika rilis data-data tersebut di bawah perkiraan. Laju IHSG pun memang sempat mengalami pelemahan, terutama setelah dirilis inflasi yang di atas perkiraan kami. Rilis inflasi sebesar 1,50% MoM hanya beda tipis dari perkiraan kami di kisaran 1,30% - 1,49% namun, lebih rendah dari 7,73% - 8,05% YoY membuat efek negatif dari kenaikan inflasi tersebut tereduksi. Apalagi tampaknya pelaku pasar telah mengantisipasi bahwa dengan adanya kenaikan harga BBM memberikan imbas pada kenaikan harga sejumlah barang sehingga berpengaruh pada lonjakan inflasi. Bahkan efek negatif tersebut makin tereduksi dengan tercatatnya surplus neraca perdagangan bulan Oktober senilai US$23,2 juta sesuai harapan kami dimana agar neraca perdagangan Oktober dapat lebih baik dari sebelumnya dan berharap dapat dirilis di bawah estimasi kami yang diekspektasikan masih defisit dengan nilai sebesar US$ -123 juta hingga US$ -204 juta. Masih berlanjutnya nett buy investor asing meski tipis turut menopang penguatan IHSG meskipun dari sisi Rupiah masih melanjutkan terdepresiasi. Adapun transaksi asing kembali tercatat nett buy (dari net buy Rp 28,76 miliar menjadi net buy Rp 67,71 miliar).

Laju Rupiah masih seperti sebelumnya dan sesuai dengan perkiraan kami sebelumnya di mana dengan maraknya permintaan terhadap US$ membuat Rupiah sulit keluar dari zona merah. Laju Rupiah pun masih melanjutkan pergerakan negatifnya. Berita mengenai perkiraan akan meningkatnya penjualan ritel AS sepanjang periode black Friday memberikan angin positif pada US$. Dari rilis data-data ekonomi, tampaknya pelaku pasar merespon negatif atas tingginya inflasi yang diperkirakan dapat melampaui tingkat suku bunga acuan. Meski neraca perdagangan mencatatkan surplus namun, tidak terlalu direspon baik oleh Rupiah karena terjadi penurunan impor maupun ekspor yang memberikan gambaran masih lemahnya penjualan ekspor dan perlambatan di dalam negeri dengan melemahnya impor. Laju Rupiah berada di bawah target level support 12.202. Untuk sementara sentimen negatif masih akan mewarnai Rupiah sehingga tetap waspada dan antisipasi pelemahan lanjutan. Rp 12.273-12.260 (kurs tengah BI).

Dipangkasnya credit rating Jepang dan melemahnya markit manufacturing-nya tidak membuat laju bursa sahamnya melemah dan bahkan menguat karena diikuti dengan penurunan nilai tukar Yen. Masih adanya perlambatan membuat pelaku pasar menilai masih diperlukannya stimulus yang kemungkinan besar dapat dijalankan setelah Pemilu nanti. Di sisi lain, variatif cenderung menguat tipisnya sejumlah data-data makro Asia membuat laju bursa saham Asia juga bergerak variatif. Bursa saham China sedikit turun setelah merespon kembali munculnya aksi demonstrasi di Hong Kong dan penurunan tipis indeks manufakturnya.

Masih berlanjutnya penurunan harga minyak mentah membuat sejumlah harga komoditas ikut terseret melemah. Saham-saham produsen energi juga terkena dampaknya yang mengakibatkan banyak terjadi aksi jual. Bursa saham Eropa pun bergerak variatif merespon pelemahan tersebut. Naiknya markit manufacturing Spanyol tidak cukup banyak membantu karena tereduksi oleh pelemahan pada indeks manufaktur di Perancis, Jerman, Italia, dan bahkan Zona Euro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tampaknya laju bursa saham AS masih akan mengikuti pergerakan variatif di pekan kemarin seiring perkiraan mulai berkurangnya mood transaksi pelaku pasar terhadap rilis data-data ekonomi. Melemahnya sejumlah data manufaktur di Eropa dan China kemungkinan akan mempengaruhi mood pelaku pasar. Apalagi laju harga minyak masih turun dan berimbas pada sejumlah saham-saham energy dan komoditas dan nantinya AS akan merilis sejumlah indeks manufaktur. Bila rilis tersebut dapat positif maka sentiment negatif tersebut dapat diimbangi dengan kenaikan indeks manufaktur tersebut.
 
Pada perdagangan Selasa (2/12) IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5128-5148 dan resisten 5172-5186. Hammer masih dekati area upper bollinger band (UBB ). MACD masih terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang mendatar. RSI, Stochastic, dan William’s %R masih tertahan kenaikannya meski terbatas. Laju IHSG sempat melampaui target resisten (5153-5164) dan berhasil ditutup di target resisten tersebut dan dapat bertahan di atas kisaran area target support (5115-5128). Meski telah dirilis data-data ekonomi namun, tampaknya mood trading pelaku pasar sedikit berkurang. Sepertinya pelaku pasar tidak hanya merespon dan mengantisipasi kondisi makro dalam negeri namun, juga mencermati sentimen global terutama dengan masih berlanjutnya penurunan harga minyak yang berimbas pada harga-harga komoditas dan masih melemahnya sejumlah indeks manufaktur. Potensi laju IHSG yang dapat tertahan dan kembali melemah masih dimungkinkan. Tetap, mencermati sentimen yang ada dan waspadai potensi pembalikan arah (jika terjadi).

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads