BIPI – Perpanjangan waktu negosiasi
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DAVO – Forced delisting
Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) akan melakukan penghapusan paksa atau forced delisting atas saham PT Davomas Abadi (DAVO), emiten saham produsen kakao, atas kekhawatiran akan kelangsungan usaha (going concern). Proses delisting akan berlangsung pada tahun ini. Otoritas BEI masih memeriksa dan memulai proses forced delisting. Sebelumnya, BEI telah melakukan delisting atas saham PT Asia Natural Resources (ASIA) pada 27 November 2014.
INDF – Penjualan 49% saham Nissinmas
PT Indofood Sukses Makmur (INDF) telah menuntaskan pelapasan saham PT Nissinmas pada 1 Desember 2014. INDF menjual seluruh kepemilikannya kepada Nissin Food Holdings Co Ltd. Dengan penjualan 49% saham Nissinmas tidak lagi menjadi anak perseroan. Melalui divestasi tersebut INDF mendapatkan dana sebesar US$ 5.4 Juta.
RUIS – Target pertumbuhan pendapatan
PT Radiant Utama Interinsco (RUIS) menargetkan kenaikan pertumbuhan pendapatan sebesar 10% - 15% menjadi Rp 2.2-2.3 Triliun tahun depan, dibandingkan perkiraan tahun ini senilai Rp 2 Triliun. Kenaikan pendapatan akan didukung atas peningkatan target kontrak baru tahun depan. Tahun ini, RUIS berhasil merealisasikan target kontrak baru senilai Rp 2.2 Triliun. Sebagian besar kontrak baru berasal dari bisnis operating support. Sedangkan sektor marine services menyumbang 35% terhadap kontrak baru. Peningkatan pendapatan diharapkan berdampak terhadap pertumbuhan laba bersih tahun depan sekitar 5-10%.
SOCI – Belanja modal
PT Soechi Lines (SOCI) berencana mencari pinjaman baru antara US$ 50 Juta-US$ 60 Juta dikarenakan dana dari IPO hanya mendapatkan Rp 582.45 Miliar dari target maksimal Rp 2 Triliun. Tahun depan, SOCI menganggarkan belanja modal US$ 80 Juta-US$ 90 Juta untuk membeli tujuh kapal baru. Sekitar 55% dana dari IPO atau Rp 320 Miliar akan digunakan untuk belanja modal. Belanja modal SOCI tahun depan lebih tinggi dari tahun ini sebesar US$ 30 Juta. Tahun ini, SOCI telah menambah pembelian tiga kapal baru yang disesuaikan dengan kontrak yang didapat. Hingga 2016, perseroan memperkirakan kebutuhan belanja modal mencapai US$ 281 Juta.
(ang/ang)











































