Kekhawatiran kami sebelumnya terhadap Belum adanya sentimen maupun berita positif membuat laju Rupiah diperkirakan dapat melanjutkan pergerakan negatifnya berhasil ditepis dengan menguatnya Rupiah setelah melemah tajam sejak 11 Desember 2014 seiring dengan sentimen melonjaknya laju US$. Tampaknya imbas intervensi dari BI senilai Rp200 miliar melalui pembelian obligasi cukup mampu membangkitkan persepsi positif pelaku pasar terhadap Rupiah. Meski laju poundsterling, yuan, hingga yen cenderung melemah namun, tidak terlalu berimbas negatif pada laju Rupiah seiring spekulasi akan adanya intervensi dari Bank Indonesia. Laju Rupiah berada di atas target level resisten 12.821. Sementara ini, masih adanya spekulasi akan adanya intervensi tambahan dari BI cukup dapat menenangkan pelemahan Rupiah sehingga kami perkirakan masih ada ruang bagi Rupiah untuk dapat melanjutkan pergerakan negatifnya. Rp 12.785-12.690 (kurs tengah BI).
Pelemahan pada laju bursa saham Asia masih berlanjut seiring aksi tunggu pelaku pasar jelang rapat FOMC. Selain itu, masih melemahnya indeks saham Rusia secara tidak langsung berpengaruh pada turunnya sejumlah indeks saham emerging market. Turunnya laju yen setelah terlibas dengan penguatan US$ membuat laju Nikkei menguat meski indeks Topix tidak ikut menguat. Saham-saham consumer dan teknologi banyak dilepas pelaku pasar. Di sisi lain, bursa saham China masih mampu berada di zona hijau seiring masih adanya sentimen perkiraan Pemerintah China akan melakukan berbagai macam upaya untuk mendukung dan meningkatkan pertumbuhan ekonominya, terutama dalam hal lebih melonggarkan kebijakan moneternya dan kebijakan capital requirement perusahaan sekuritas untuk menggenjot marjin peminjaman (lending).
Laju bursa saham Eropa kembali melemah setelah terjadi aksi jual pada saham-saham perbankan. Meningkatnya average earning Inggris tertutupi oleh sentiment meningkatnya unemployment rate-nya dan aksi tunggu terhadap hasil rapat BoE dan The Fed. Cenderung turunnya inflasi Zona Euro turut direspon negatif seiring persepsi masih rendahnya daya beli konsumen Eropa.
Laju bursa saham AS masih akan menunggu hasil dari rapat FOMC dimana Gubernur Jennet Yellen diharapkan dapat memberikan indikasi akan waktu kenaikan suku bunga The Fed dan tidak hanya paparan ekonomi AS semata. Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan rilis data current account, inflasi, hingga MBA mortgage applications.
Β
Pada perdagangan Kamis (18/12) IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5014-5022 dan resisten 5055-5068. Bullish harami berada di bawah area lower bollinger band (LBB ). MACD masih melanjutkan pelemahan dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, Stochastic, dan Williamβs %R masih bergerak turun meski mulai terbatas. Laju IHSG sempat berada di area target resisten (5055-5074) meski kembali turun dan mampu bertahan di atas target support (4974-5015). Meski menguat namun, utang gap di 5126-5150 dan 5069-5094 belum tertutupi. Mulai adanya aksi beli membantu IHSG berada di zona hijau meski dari sisi sentimen belum mendukung. Laju IHSG dapat berpotensi menguat jika pelaku pasar masih memanfaatkan buyback.
(ang/ang)











































