First Asia Capital: IHSG Diiringi Profit Taking

First Asia Capital: IHSG Diiringi Profit Taking

- detikFinance
Senin, 05 Jan 2015 08:04 WIB
First Asia Capital: IHSG Diiringi Profit Taking
Jakarta - Di hari perdagangan pertama tahun 2015, IHSG berhasil bertahan di zona hijau dan ditutup menguat di level 5242.77 naik 15,82 poin atau sebesar 0,3%. Sepanjang hari perdagangan masih belum kembali ke level normal, Hanya terjadi 155.661 kali transaksi yang melibatkan 5,6 miliar unit saham senilai Rp 4,57 triliun. Sebanyak 149 saham menguat, 136 melemah, dan 79 stagnan. Selain itu terjadi pelemahan pada nilai tukar rupiah yang telah kemblai menyetuh level 12.500.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi tahunan nasional pada 2014 mencapai 8,36%. Besaran inflasi tahun lalu lebih kecil ketimbang yang terjadi di tahun 2013 yaitu 8,38%. Sedangkan inflasi bulan Desember saja naik 2,46%. Bank Indonesia menyatakan, inflasi bulan Desember 2014 meningkat tinggi dan sedikit melebihi perkiraan bank sentral sebelumnya, yaitu dikisaran 2,1%-2,2%. Selain itu BPS mencatat neraca perdagangan pada November 2014 defisit sebesar US$ 425,7 juta. Penyebabnya karena penurunan ekspor, sedangkan kegiatan impor masih tinggi. Secara akumulasi sepanjang 2014, neraca perdagangan Indonesia pun masih negatif US$ 2,07 miliar.

Sementara dari bursa global perdagangan sepi kembali mewarnai perdagangan. Beberapa data ekonomi juga dirilis. Purchasing Managers' Index China bulan Desember turun ke level 50,1, berbanding 50,3 pada November. PMI di atas 50 menunjukkan ekspansi manufaktur, sedangkan di bawahnya menunjukkan kontraksi. Selain itu penurunan bursa Ibovespa di Brasil juga memberikan sentimen negatif ke emerging market.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perdagangan pada hari ini akan kembali ke level normal. IHSG masih diringi dengan aksi profit taking. Pelemahan rupiah akan menjadi sorotan besar apakah masih berlanjut atau tidak. Aksi jual dari investor asing juga masih akan berlanjut. Selain itu kenaikan elpiji dan tarif listrik akan melemahkan daya beli masyarakat sehingga sektor konsumsi berpotensi melemah.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads