Pelemahan IHSG kemarin tidak sejalan dengan pergerakan rupiah atas dolar AS yang cenderung menguat di Rp 12.932/US$. Koreksi IHSG terutama terjadi akibat tekanan jual di saham sektor infrastruktur seperti saham Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang terkoreksi 5%, saham tambang, CPO, dan saham emiten properti. Sedangkan aksi beli masih dialami saham perbankan.
Koreksi terutama dipicu sentimen negatif eksternal seperti antisipasi kenaikan tingkat bunga The Fed, dan perlambatan ekonomi China setelah data aktivitas manufakturnya mengalami kontraksi bulan lalu. Memburuknya kinerja perekonomian China telah menekan pergerakan harga saham tambang dan perkebunan. Dana asing kemarin kembali mencatatkan penjualan bersih hingga Rp 400 miliar. Sementara bursa saham global tadi malam dilanda tekanan jual terutama oleh saham-saham berbasis teknologi. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street terkoreksi masing-masing 1,62% dan 1,46% tutup di 17.718,54 dan 2.061,05. Indeks Nasdaq anjlok 2,37% di 4.876,52.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melanjutkan perdagangan hari ini, perdagangan saham akan didominasi aksi jual menyusul meningkatnya resiko pasar global. IHSG diperkirakan akan cenderung koreksi ke bawah level 5.400, dengan support di 5.350. Sedangkan level resisten IHSG di 5.425.
(dnl/dnl)











































