Melemahnya kinerja perekonomian nasional yang terefleksi dari pencapaian kinerja emiten sektoral 1Q15 merupakan dampak dari kebijakan uang ketat yang dijalankan Bank Indonesia (BI) sejak pertengahan tahun lalu dan tren pelemahan rupiah atas dolar AS dimana rupiah setahun terakhir telah terdepresiasi 14,7% di Rp13084 akhir Maret lalu dibandingkan akhir 1Q14 di Rp11400. Dari sisi permintaan, daya beli masyarakat terus merosot akibat kebijakan pemerintahan Jokowi-JK mencabut sejumlah subsidi energi seperti TDL dan BBM di tengah tren penurunan harga minyak mentah sejak awal tahun ini. Kekecewaan atas kinerja emiten sektoral 1Q15 menjadi pemicu utama koreksi IHSG selama sepekan kemarin hingga 6,42% dan sepanjang April turun 7,8%. Penjualan bersih asing sepekan terakhir mencapai Rp7,10 triliun dan sepanjang April mencapai Rp9,5 triliun naik dari penjualan bersih Maret Rp5,4 triliun. Sementara Wall Street akhir pekan lalu berhasil rebound rata-rata 1% setelah hari sebelumnya koreksi. Indeks DJIA dan S&P selama sepekan masing-masing koreksi 0,3% dan 0,4%. Pergerakan Wall Street pekan lalu lebih dipicu sentimen kinerja emiten 1Q15 dan pertemuan The Fed yang belum menentukan tenggat waktu kenaikan tingkat bunganya karena data ekonomi AS yang kurang menggembirakan.
Pada perdagangan awal pekan ini, IHSG diperkirakan masih akan bergerak bervariasi, namun secara technical berpeluang rebound dengan topangan sentimen positif dari bursa global dan Asia setelah data manufaktur China menunjukkan adanya pertumbuhan April lalu. Indeks manufakturing PMI China April lalu di 50,1 di atas perkiraan 50,0. IHSG diperkirakan bergerak dengan kisaran support di 5030 hingga resisten di 5140.
(ang/ang)











































