Penguatan IHSG pekan lalu terutama dipicu sejumlah saham sektoral yang sensitif interest rate seperti perbankan, properti, barang konsumsi dan infrastruktur. Rupiah selama sepekan kemarin bergerak stagnan di kisaran Rp 13.325 terhadap dolar AS. Namun penguatan IHSG pekan lalu kurang ditopang peningkatan volume dan nilai transaksi.
Rata-rata volume transaksi di Pasar Reguler pekan kemarin hanya 3,23 miliar, turun dibandingkan rata-rata pekan sebelumnya 3,77 miliar saham. Sedangkan rata-rata nilai transaksi hanya Rp 3,37 triliun di Pasar Reguler, turun dari pekan sebelumnya Rp3,97 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini tercermin dari penguatan IHSG pekan lalu sejalan dengan penguatan yang terjadi di Wall Street. Indeks DJIA selama sepekan menguat 0,65% meskipun di akhir pekan koreksi 0,55% di 18015,95. Sedangkan indeks S&P sepekan naik 0,76% dengan koreksi di akhir pekan 0,53% di 2109,99. Koreksi Wall Street akhir pekan lalu terutama dipicu meningkatnya kembali kekhawatiran penyelesaian utang Yunani yang masih belum mencapai kata sepakat, antara pemerintah Yunani dengan krediturnya.
Melanjutkan perdagangan pada awal pekan terakhir Juni ini, IHSG diperkirakan bergerak bervariasi dalam rentang konsolidasi. Peluang penguatan lebih lanjut dibayangi dengan aksi ambil untung jangka pendek menyusul minimnya insentif positif di pasar. IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 4.950 dan resisten di 5.010.
IHSG: S1 4950 S2 4910 R1 5010 R2 5030,
(dnl/dnl)











































