Nilai tukar rupiah atas dolar AS selama sepekan terakhir anjlok 1,7%. Pasar saham selama sepekan kemarin ditandai meningkatnya resiko pasar terutama terimbas langkah bank sentral China (PBoC) yang mendevaluasi Yuan hingga 3% selama pekan kemarin yang mengakibatkan mata uang emerging market seperti rupiah terkena dampak negatifnya. Dari internal, data neraca pembayaran Indonesia 2Q15 yang mencatatkan defisit USD2,95 miliar memburuk dibandingkan 1Q15 yang masih surplus USD1,3 miliar turut meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Ini terutama akibat naiknya defisit transaksi berjalan 2Q15 menjadi USD4,48 miliar atau 2,05% PDB dibandingkan 1Q15 sebesar USD3,8 miliar atau hanya 1,8% PDB. Sementara Wall Street tadi malam berhasil melanjutkan penguatan pekan lalu. Indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 0,39% dan 0,52% tutup di 17545,18 dan 2102,44. Penguatan dipicu redahnya kekhawatiran devaluasi Yuan dan data pembangunan rumah yang naik tercermin dari indeks Housing Market Agustus di 61 naik dari bulan sebelumnya di 60. Namun pasar kembali fokus pada kebijakan tingkat bunga The Fed seiring perkembangan positif perekonomian AS.
Perkembangan positif Wall Street dan sentimen kawasan Asia membuat pergerakan IHSG hari ini diperkirakan akan bervariasi. Pergerakan mata uang rupiah atas dolar AS akan menjadi katalis bagi pergerakan indeks. IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 4560 dan resisten di 4600 berpeluang menguat terbatas ditopang peluang penguatan rupiah.
(ang/ang)











































