Pemodal menghindari aset berisiko, menyusul berlanjutnya kekhawatiran perlambatan ekonomi China dan tren penguatan dolar AS atas mata uang emerging market, yang berdampak buruk bagi rupiah. Kondisi ini memicu keluarnya dana global dari pasar emerging market termasuk Indonesia.
Selama sepekan IHSG koreksi 5,44% dan rupiah anjlok 0,96%, sehingga dolar berada di Rp 13.895 (kurs Jisdor). Sedangkan berdasarkan kurs Bloomberg, kurs rupiah akhir pekan lalu sudah di Rp 13.941/US$.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risiko pasar yang meningkat juga tercermin dari naiknya CDS (credit default swap) Indonesia hingga 50,6% di 241,53 akhir pekan lalu, dibandingkan akhir tahun lalu di 160,312.
Sementara pasar saham global akhir pekan lalu ikut terpuruk, akibat meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi China. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street masing-masing anjlok 3,12% dan 3,19%, tutup di 16.459,75 dan 1.970,89. Harga minyak mentah juga ikut anjlok 2% di USD40,45/barel akhir pekan lalu.
Pada perdagangan awal pekan terakhir Agustus, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi perdagangan seiring masih tingginya risiko pasar.
Kekhawatiran berlanjutnya pelemahan rupiah atas dolar AS yang berpotensi menembus level Rp 14.000 akan menjadi katalis negatif di pasar. Peluang rendahnya tekanan jual akan ditentukan dengan langkah pemerintah yang menginstruksikan BUMN melakukan buyback sahamnya menyusul kebijakan OJK merelaksasi aturan buyback tanpa RUPS.
IHSG diperkirakan masih berfluktuasi bergerak dengan support di 4.290 dan resisten di 4.375 cenderung koreksi.
(dnl/dnl)










































