First Asia Capital: Buyback Saham BUMN Bisa Pulihkan IHSG

First Asia Capital: Buyback Saham BUMN Bisa Pulihkan IHSG

First Asia Capital - detikFinance
Selasa, 25 Agu 2015 07:57 WIB
Jakarta - IHSG kemarin kembali anjlok tajam hingga 172 poin, atau 3,97% tutup di 4.163 menyusul meningkatnya kekhawatiran atas gejolak pasar saham global dan depresiasi rupiah. Nilai tukar rupiah atas dolar AS untuk pertama kalinya sejak 1998 menembus level Rp 14.000, tepatnya di Rp 14.049 (kurs Bloomberg) melemah 0,8% dari akhir pekan lalu.

Tekanan jual di pasar saham kembali meningkat setelah bursa saham China kemarin anjlok 8,5% (indeks Shanghai), terburuk sejak 2007 lalu. Respons negatif pasar atas gejolak di China telah melanda seluruh pasar emerging market maupun pasar advanced countries.

The MSCI Asia Pasifik Index kemarin telah koreksi selama tujuh hari perdagangan berturut-turut, dan risiko kredit di Asia naik ke level tertinggi sejak Maret 2014. Langkah bank sentral China mendevaluasi mata uangnya secara drastis 3,3% pada pertengahan Agustus lalu dan rencana kenaikan bunga The Fed telah menekan mata uang emerging market.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak yang lebih parah dihadapi rupiah karena ekspor Indonesia anjlok, terutama terdampak harga komoditas primer yang terus melemah. Juli lalu ekspor Indonesia turun 19,23% (yoy). Tekanan mata uang emerging market dan dampaknya terhadap perekonomian domestik telah memicu keluarnya arus dana asing dari aset berisiko.

Pada perdagangan kemarin, penjualan bersih asing mencapai Rp 734,21 miliar. Sepanjang tahun ini hingga kemarin penjualan bersih asing mencapai Rp 5,11 triliun, IHSG anjlok 20,34% (YTD), dan rupiah koreksi 13% (YTD). Sejalan dengan meningkatnya risiko pasar, tekanan jual kembali melanda perdagangan saham di bursa global tadi malam.

Indeks Eurostoxx di zona Euro anjlok 5,35% di 3073,39. Indeks DJIA di Wall Street pada awal perdagangan sempat anjlok 1.000 poin, sebelum akhirnya berhasil mengurangi kerugian ditutup anjlok 3,57% atau 588,40 poin, di 15.871,35.

Indeks S&P anjlok 3,94% di 1893,21. Harga minyak mentah tertekan hingga 5,81% di US$ 38,10/barel. Pemodal menghindar dari aset berisiko, seiring meningkatnya kekhawatiran terjadinya krisis China, menyusul langkah PBoC mendevaluasi yuan pekan sebelumnya secara drastis. Langkah PBoC ini membuat rencana kenaikan tingkat bunga The Fed menghadapi risiko.

Pada perdagangan hari ini, tekanan jual diperkirakan akan kembali mendominasi perdagangan, menyusul meningkatnya kekhawatiran berlanjutnya pelemahan rupiah atas dolar AS, dan merosotnya kembali harga komoditas. Namun di akhir sesi, diperkirakan akan berpeluang membaik, terutama apabila pemerintah merealisasikan rencana buyback saham sejumlah BUMN untuk meredam kepanikan di pasar saham. IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 4.010 dan resisten di 4.250.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads