Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ini sudah tembus di atas Rp 14.500/US$, menjadikan kekhawatiran pelaku pasar terhadap perlambatan ekonomi Indonesia kuartal III semakin besar. Maraknya aksi jual pada perdagangan kemarin, masih didominasi oleh asing, dimana pelaku pasar asing mencatatkan net sell sebesar Rp 380,83 miliar.
Sementara itu, indeks di bursa Asia kemarin ditutup mixed. Indeks Shanghai, TWSE, KOSPI dan Hang Seng berhasil menguat. Sedangkan indeks Nikkei, KLSE, dan ST-Times, Sensex terkoreksi. Koreksi tertinggi dipimpin oleh indeks Nikkei yang mencatatkan penurunan sebesar 1,96% ke level 18.070,21.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelemahan dipicu oleh maraknya aksi jual komoditas yang menyeret harga saham yang berada disektor berbahan dasar komoditas. Sektor S&P materials. (SPLRCM) terkoreksi sebesar 1,8% yang memimpin penurunan indeks S&P 500. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap perlambatan ekonomi China juga menjadi salah satu faktor yang menekanan harga komoditas selama 2 minggu terakhir ini.
Selain itu keputusan The Fed untuk menjaga suku bunganya di 0,25% semakin menambah kekhawatiran pelaku pasar, seiring dengan pernyataan Dennis lockhart bahwa kenaikan suku bunga The Fed masih mungkin dilakukan pada akhir tahun ini.
Kami perkirakan IHSG hari ini masih rentan terhadap aksi tekanan jual, seiring dengan rupiah yang sudah menyentuh level Rp 14.500/US$. Selain itu, Data manufacturing China bulan September yang akan dirilis hari ini juga menjadi salah satu faktor yang akan menjadi penggerak indeks.
Secara teknikal, histogram MACD melemah didukung oleh penurunan indikator stochatsic oscilator. MFI bergerak flat dan RSI turun. Kami perkirakan IHSG akan berada di kisaran 4.305-4.721.
(dnl/dnl)











































