Kiwoom Securities: Minat Jual Asing Sudah Rendah

Kiwoom Securities: Minat Jual Asing Sudah Rendah

Kiwoom Securities - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2015 08:41 WIB
Kiwoom Securities: Minat Jual Asing Sudah Rendah
Jakarta - Cukup positifnya Dow Jones dan bursa dunia dapat memberikan dukungan. IHSG terkoreksi kemarin dengan candlestick membentuk pola "bearish engulfing" sehingga berpotensi memicu aksi profit taking lanjutan. Namun, masih rendahnya minat jual asing dapat membatasi peluang pelemahan. Sehingga, kami memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran positif pada hari ini.


ACST - Kontrak baru

PT Acset Indonusa (ACST) membukukan kontrak baru senilai Rp 3.1 Triliun sampai dengan Oktober 2015. Nilai tersebut melampaui target kontrak baru tahun ini yang sebesar Rp 2.5 Triliun. Kontrak senilai Rp 3.1 Triliun terdiri atas kontrak pengerjaan apartemen dan gedung perkantoran, seperti Project Thamrin 9, Apartemen West Vista, Project Indonesia 1, dan Apartemen di jalan Borobudur. Selain itu, perseroan juga mengerjakan konstruksi Astra Business Centre, pembangunan gerbang dan kantor gerbang tol Cilegon Barat, dan warehouse Astra Oto Parts.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


BBRI - Kinerja 9M 2015

PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membukukan kenaikan laba bersih 9M 2015 sebesar 2%Yoy menjadi Rp 18.42 Triliun Vs Rp 18.06 Triliun pada 9M 2014 lalu. Pendapatan bunga bersih tercatat naik sebesar 12.8%Yoy menjadi Rp 42.87 Triliun dan laba operasi tercatat naik sebesar 6.1%Yoy menjadi Rp 21.39 Triliun. Posisi CAR pada 9M 2015 tercatat sebesar 20.59% (18.57% pada 9M 2014) dengan NPL Gross 2.24% (1.89% pada 9M 2014), ROE 29.6% (31.51% pada 9M 2014) dan LDR 84.89% (85.29% pada 9M 2014).


DGIK - Kontrak baru

PT Nusa Konstruksi Enjiniring (DGIK) membukukan kontrak baru senilai Rp 2 Triliun hingga 9M 2015, setara dengan 91% dari target tahun ini senilai Rp 2 Triliun. Kontrak baru tersebut didominasi pembangunan konstruksi gedung high rise, yang berkontribusi 60% atau sekitar Rp 1.2 Triliun. Selain itu, perseroan juga mendapatkan kontrak baru dari proyek pembangunan proyek sipil yang meliputi jalan, pembangkit listrik, dan berbagai infrastruktur lainnya.


INCO - Kinerja 9M 2015

PT Vale (PTBA) membukukan penurunan laba bersih 9M 2015 sebesar 60.2%Yoy menjadi US$ 51.86 Juta Vs US$ 130.35 Juta pada 9M 2014 lalu. Penjualan tercatat turun sebesar 20.6%Yoy menjadi US$ 613.14 Juta dan laba operasi tercatat turun 57.9% Yoy menjadi US$ 79.43 Juta pada 9M 2015. Sementara itu, INCO merevisi belanja modal pada tahun ini menjadi US$ 110.8 Juta dari semula alokasi belanja modal senilai US$ 120 Juta-US$ 185 Juta. Hingga 3Q 2015, INCO telah menggunakan belanja modal sekitar US$ 76.2 Juta dan INCO akan menunda semua belanja modal untuk tahun berikutnya dikarenakan INCO belum mendapatkan beberapa izin yang diperlukan untuk berekspansi.


SGRO - Gugatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Dalam keterbukaan informasi per tanggal 22 Oktober, PT Sampoerna Agro (SGRO) menjelaskan bahwa pada tanggal 20 Oktober lalu anak perusahaan, PT National Sago Prima (NSP), menerima gugatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen-LHK) atas peristiwa bencana kebakaran lahan milik NSP pada akhir Januari 2014 hingga Maret 2014. NSP digugat secara hukum untuk membayar ganti kerugian lingkungan hidup senilai Rp 319.17 Miliar dan biaya pemulihan lingkungan senilai Rp 753.74 Miliar sehingga total gugatan mencapai Rp 1.07 Triliun. Manajemen menyatakan hingga saat ini gugatan tersebut tidak berdampak secara hukum, namun apabila seluruh petitum gugatan dikabulkan maka NSP akan kehilangan hak hukum untuk menjalankan kegiatan operasional dan berdampak pada terjadinya wanprestasi (default) NSP terhadap perjanjian dengan pihak lain.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads