Pergerakan IHSG masih tertahan oleh aksi ambil untung yang masih dilakukan oleh investor asing dimana asing membukukan net sell sebesar Rp 397,09 miliar. Selain itu, pelaku pasar juga masih wait and see terkait Fed Rate yang semakin berpeluang untuk naik di bulan Desember mendatang. Secara sektoral, mayoritas indeks sektoral mengalami rebound di mana sektor infrastruktur memimpin penguatan sebesar 1.49%, kemudian disusul sektor properti yang naik sebesar 1,02%.
Kemarin, masuk hari ke tujuh saham Jepang masih mencatatkan kenaikan mesti tidak terlalu signifikan. Penguatan saham Jepang seiring dengan rilisnya data Machinery Order bulan September yang meningkat dari -5.7% menjadi 7.5%. Nikkei mengakhiri perdagangan kemarin dengan naik tipis sebesar 0.03% diikuti TWSE, Sensex dan Hangseng yang juga naik. Sementara indeks Shanghai melemah sebesar 0.48%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bursa Eropa juga inline dengan bursa AS, dimana seluruh indeks utama mengalami pelemahan bahkan dua dari tiga indeks nyaris melemah hingga 2%. Indeks FTSE 100 turun sebesar 1.88%, CAC 40 turun 1.94% dan DAX juga turun 1.15%. Rilisnya data Industrial Production bulan September yang lebih rendah dari sebelumnya 2.2% menjadi 1.7%, menjadi sentiment negative bagi pergerakan bursa Eropa kemarin.
Kami memperkirakan IHSG berpotensi melemah seiring dengan meningkatnya kekhawatiran para pelaku pasar terkait kenaikan Fed Rate. Secara teknikal, indicator Momentum sudah mulai menguat. Sementara, Stochastic Oscillator masih melemah namun berpeluang untuk naik. Kami prediksikan IHSG akan bergerak di kisaran 4412-4502.
(ang/ang)











































