Kiwoom Securities: Pelemahan Rupiah Jadi Sentimen Negatif

Kiwoom Securities: Pelemahan Rupiah Jadi Sentimen Negatif

Kiwoom Securities - detikFinance
Jumat, 11 Des 2015 08:30 WIB
Kiwoom Securities: Pelemahan Rupiah Jadi Sentimen Negatif
Jakarta - Mixed-nya bursa dunia dan melemahnya rupiah dapat mempengaruhi sentimen. IHSG naik tipis setelah mencoba level terendah sebelumnya. Namun demikian, masih adanya minat jual asing terlihat dapat menghambat kenaikan. Maka, kami memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran positif hari ini.

 

EMTK - Belanja modal

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PT Elang Mahkota Teknologi (EMTK) mengalokasikan dana belanja modal sebesar Rp 200 Miliar tahun depan. Jumlah tersebut naik 33.3% dibandingkan belanja modal tahun ini sekitar Rp 150 Miliar. Penggunaan dana belanja modal mayoritas akan lebih mengedepankan digitalisasi konten, maintenance, dan penambahan studio. Dalam hal ekspansi EMTK akan membentuk unit usaha baru: Indonesian Entertainment Group untuk menampung semua konten unit. EMTK juga akan membangun studio kecil untuk menyuplai konten ke digitalisasi dan media online. EMTK menargetkan pertumbuhan pendapatan 10%-15% tahun depan sekitar Rp 7.46 Triliun hingga Rp 7.8 Triliun. Tahun ini EMTK memperkirakan pendapatan tumbuh 3%-4% sekitar Rp 6.72 Triliun hingga Rp 6.78 Triliun.

 

IDPR - Rencana pembangunan pabrik precast

PT Indonesia Pondasi Raya (IDPR) melalui anak perusahaan PT Rekagunatek Persada akan membangun pabrik beton pracetak (precast) di Tangerang tahun depan dengan kebutuhan dana investasi mencapai Rp 80-100 Miliar. Realisasi pembangunan tersebut sesuai dengan rencana ekspansi IDPR yang saat ini fokus pada pekerjaan pondasi bangunan. Pabrik precast tersebut akan memiliki kapasitas produksi beton pracetak sebanyak 700-1,000 m² per bulan dan diharapkan dapat beroperasi pada Oktober 2016. Manajemen menargetkan perolehan pendapatan dari proyek infrastruktur naik sekitar 30% hingga 40% tahun depan.

 

JSMR - Belanja modal

PT Jasa Marga (JSMR) menaikan alokasi belanja modal tahun depan menjadi Rp 16 Triliun dari rencana awal Rp 14 Triliun. Belanja modal tahun depan naik signifikan disbanding tahun ini sekitar Rp 5 Triliun dikarenakan pembebasan lahan tol perseroan sudah mencapai 90%. Dengan demikian perseroan akan lebih banyak melakukan konstruksi jalan tol tahun depan. Pada ruas Solo-Ngawi lahan yang dibebaskan telah mencapai 96%, sedangkan Ngawi-Kertosono 87% dan diharapkan tahun depan pembebasan ruas tol tersebut mencapai 100%. Ruas tol Solo-Ngawi dan Ngawi-Kertosono mencapai 177.2 Km dan menjadi salah satu ruas tol terpanjang yang dibangun perseroan dengan nilai investasi diperkirakan sebesar Rp 8.97 Triliun dan ditargetkan selesai pada tahun 2018. Sumber belanja modal sebesar 30% berasal dari ekuitas dan sisanya 70% berasal dari perbankan.

 

SMGR - Belanja modal

PT Semen Indonesia (SMGR) berencana mengoperasikan dua pabrik semen baru dan masuk bisnis beton pra cetak. SMGR mengalokasikan dana belanja modal senilai Rp 7.5 Triliun tahun depan yang akan digunakan untuk membangun pabrik semen baru dengan skema joint venture bersama investor lokal. Pabrik dengan kapasitas 3 juta ton berlokasi di Aceh akan berdiri diatas lahan seluas 1,548 Ha. Dana belanja modal juga dialokasikan untuk membiayai operasional dua pabrik baru di Rembang (Jawa Tengah) yang ditargetkan beroperasi Oktober 2016 dan Indarung (Sumatera Barat) dengan target beroperasi pada akhir 2016. Sementara itu realisasi pendirian pabrik beton pra cetak, SMGR akan bekerja sama dengan BUMN dengan membentuk usaha patungan.

 

WIKA - Proyek kereta cepat

Konsorsium PT Wijaya Karya segera menyuntik dana sebesar Rp 1.25 Triliun ke perusahaan patungan, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Proyek high speed railway Jakarta – Bandung senilai US$ 5.5 Miliar tersebut akan dimulai konstruksinya pada tahun 2016. Kepemilikan saham konsorsium BUMN Indonesia sebesar 60%, sedangkan sisanya 40% milik BUMN China. Selain WIKA yang menjadi pemimpin kosorsium, ada PT Jasa Marga (JSMR) yang memiliki saham sebesar 12%, serta PT Perkebunan Nusantara (PTPN)VIII dan PT Kereta Api Indonesia yang masing-masing memiliki porsi 25%. Sesuai rencana, kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 150 Km akan dibangun dengan konstruksi melayang (elevated).

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads