Meningkatnya resiko capital outflow turut menekan rupiah atas dolar AS sejalan dengan pelemahan mata uang emerging market terhadap dolar AS menjelang pertemuan The Fed 15-16 Desember pekan ini. Nilai tukar rupiah atas dolar AS kemarin berada di Rp14076 (kurs Jisdor) melemah 1% dari akhir pekan lalu di Rp13937. Pelemahan rupiah turut dipicu anjloknya harga obligasi pemerintah Indonesia di tengah kekhawatiran merosotnya harga komoditas, kenaikan tingkat bunga AS, dan kebijakan China melemahkan mata uang Yuan. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun kemarin naik 28 bp ke 9%. Ini merupakan kenaikan tertinggi sejak Januari 2014.
Sementara Wall Street tadi malam berhasil rebound setelah akhir pekan lalu drop di atas 1,8%. Indeks DJIA dan S&P masing-masing menguat 0,60% dan 0,48% tutup di 17368,50 dan 2021,94. Penguatan terutama ditopang saham energi setelah harga minyak mentah berhasil rebound 1,74% di USD36,24/barel. Namun penguatan masih dibayangi kekhawatiran kenaikan bunga dan perlambatan ekonomi global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(ang/ang)











































