Lemahnya aktivitas manufaktur China kembali menekan mata uang China Yuan ke level terendah dalam lima tahun terakhir sehingga berdampak buruk bagi pelemahan mata uang rupiah. Nilai tukar rupiah atas dolar AS kemarin melemah 0,82% di Rp13943 Pasar juga mengkhawatirkan meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah setelah Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Berbagai sentimen negatif tersebut telah memicu aksi ambil untung di pasar saham terutama atas sejumlah saham sektoral yang berbasiskan komoditas. Meningkatnya resiko pasar, dipicu faktor China dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tadi malam juga berimbas pada perdagangan saham di belahan bumi utara.
Indeks DJIA dan S&P di Wall Street masing-masing anjlok 1,58% dan 1,53% tutup di 17148,94 dan 2012,66. Di zona Euro indeks Eurostoxx anjlok 3,14% di 3164,76. Harga minyak mentah tadi malam di AS melemah 0,38% di USD36,90/barel dan harga emas menguat 1,30% di USD1074/t.oz. Pasar global kembali dikhawatirkan dengan lemahnya prospek pertumbuhan ekonomi global setelah data aktivitas manufaktur China dan AS yang keluar mengindikasikan terjadinya kontraksi. Indeks ISM Manufacturing PMI AS Desember 2015 lalu turun ke level terendahnya sejak Juni 2009 yakni di 48,2 di bawah estimasi 49,1 dan angka bulan sebelumnya 48,6.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(ang/ang)











































