Memburuknya pasar saham Asia, terutama dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi China setelah PBoC kemarin kembali melakukan depresiasi atas mata uang yuan dan juga dipicu tren pelemahan harga minyak mentah dunia. Indeks saham China, Shanghai Composite kemarin kembali anjlok 7% sehingga kembali dihentikan perdagangannya sebelum akhir sesi.
Otoritas moneter China telah melakukan depresiasi atas mata uang Yuan untuk delapan hari berturut-turut, menimbulkan kecemasan global akan akan prospek perekonomian negara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meningkatnya kekhawatiran atas perekonomian China ikut berdampak pada perdagangan bursa saham global tadi malam. Indeks saham Eurostoxx di kawasan Euro tadi malam anjlok 1,74% di 3084,68. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street masing-masing anjlok 2,32% dan 2,37% tutup di 16514,10 dan 1943,09.
Harga minyak mentah di AS tadi malam turun 2,36% di US$ 33,17/ barel. Sedangkan harga emas kembali menguat 1,58% di US$ 1109,20/t.oz.
Kondisi pasar saham global dan kawasan yang kembali ditandai dengan meningkatnya risiko pasar masih akan mewarnai sentimen pasar pada perdagangan akhir pekan ini. Pelemahan mata uang yuan cenderung berdampak negatif bagi pergerakan rupiah. IHSG diperkirakan akan bergerak di kisaran 4490 hingga 4580, cenderung melanjutkan koreksi.
(dnl/dnl)











































