Jakarta - IHSG tutup di 4853,922 atau menguat 20,697 poin (0,43%). Penguatan terutama akibat naiknya sektor industri lain-lain, perbankan, tambang dan infrastruktur. Pada akhir pekan kemarin juga terjadi penguatan nilai tukar rupiah ke posisi Rp13612 per US dolar. Adamya optimisme pasar terhadap perbaikan ekonomi AS yang menyebabkan kenaikan tingkat suku bunga The Fed menjadi hal yang wajar. Akan tetapi ada juga sentimen negatif dari China dan Euro yang masih mengindikasikan perlambatan ekonomi.
Bursa global akhir pekan lalu berfluktuasidan cenderung turun. Indeks Eurostoxx di kawasan Euro akhir pekan lalu tutup koreksi 1,2% di 2997,55. Di Wall Street indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,2% dan 0,3% di 17807,06 dan 2099,13.
Pasar merespon bervariasi keluarnya data tenaga kerja AS Mei lalu yang hanya menciptakan lapangan kerja 38 ribu pekerjaan di bawah perkiraan sebelumnya 159 ribu dan bulan sebelumnya 123 ribu. Ini merupakan angka terendah sejak September 2010 lalu. Buruknya angka tenaga kerja Mei lalu kembali menyurutkan ekspektasi kenaikan tingkat bunga memasuki paruh kedua tahun ini. Selain data tenaga kerja, data aktivitas sektor jasa di AS Mei lalu juga mengindikasikan perlambatan pertumbuhan dengan indeks ISM Non-Manufacturing PMI di 52,9 turun dari bulan sebelumnya 55,7.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan awal pekan dan memasuki bulan Ramadan, IHSG diperkirakan akan bergerak konsolidasi dengan potensi melemah tipis. Langkah IHSG untuk menguat cukup berat dikarenakan aksi profit taking. secara teknikal indikator RSI dan Stochastic mulai memasuki area overbought. IHSG akan bergerak pada rentang 4810 hingga 4890.
(ang/ang)