Investor Khawatir Suku Bunga AS Naik Bikin IHSG Tertekan

Investor Khawatir Suku Bunga AS Naik Bikin IHSG Tertekan

OSO Securities - detikFinance
Rabu, 14 Sep 2016 09:23 WIB
Investor Khawatir Suku Bunga AS Naik Bikin IHSG Tertekan
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Mengawali perdagangan pada pekan ini (13/09/2016), IHSG kembali ditutup terkoreksi dengan turun sebesar 1,26% ke level 5.215,57. Mayoritas indeks sektoral berada dalam zona merah, pelemahan terdalam dipimpin oleh sektor pertambangan dan aneka industri yang masing-masing turun sebesar 4% dan 3,07%.

Pelaku pasar asing mencatatkan net sell senilai Rp 378,22 miliar. Tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap naiknya suku bunga the Fed dalam waktu dekat ini seiring dengan pernyataan beberapa pejabat The Fed membuat pergerakan pasar saham cukup tertekan.

Sementara dari dalam negeri pun masih minim sentimen positif. Selain itu, ekspektasi Bank Indonesia (BI) terhadap pertumbuhan kredit tahun ini yang hanya tumbuh di kisaran 7%-9% , lebih rendah dari ekspektasi BI sebelumnya dikisaran 10%-12% juga ikut mempengaruhi psikologis pelaku pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertumbuhan kredit yang rendah mengindikasikan masih lemahnya permintaan domestik yang diakibatkan oleh perlambatan ekonomi global.
Sementara itu, dari bursa Asia, mayoritas indeks ditutup terkoreksi, indeks ST-times turun 1,91% ke level 2.818,38 dan Sensex melemah 1,54% ke level 28.353,54. Sementara indeks Shanghai berhasil naik tipis 0,05% ke level 3.023,51.

Penguatan yang terjadi pada bursa China inline dengan perekonomian China yang nampaknya sudah menunjukkan perbaikan seiring dengan beberapa data ekonomi yang berada diatas ekspektasi pelaku pasar. Data produksi industri China bulan Agustus tumbuh 6.3% (YoY), lebih tinggi dari bulan sebelumnya 6% (YoY).

Selain itu data penjualan ritel cina bulan Agustus pun tumbuh 10,6% (YoY) lebih tinggi dari bulan Juli 10,2% (YoY).

Global Market

Akhir perdagangan Selasa (13/09), Bursa Wall Street kembali ditutup di zona merah dengan penurunan yang cukup signifikan. Indeks Dow Jones turun 1.41% ke level 18,067.75, S&P 500 melemah 1.48% ke level 2,127.02 dan Nasdaq terkoreksi 1.09% ke level 5,155.26. Salah satu yang menjadi faktor pemberat indeks utama Bursa AS yaitu anjloknya komoditas minyak WTI sebesar 3% atau US$ 1.39 ke level US$ 44.90 per barrel yang menyebabkan indeks energi jatuh hingga 2.86%.

Komoditas minyak mengalami penurunan setelah Badan Energi Internasional (IEA) dan OPEC mengatakan bahwa kelebihan pasokan minyak masih
akan berlanjut seiring dengan masih lemahnya permintaan sementara tingkat produksi tetap bertahan. Pasokan minyak AS meningkat US$ 4 juta barrel pada pekan lalu.

Selain itu pendapat dari ketiga pejabat The Fed pada awal pekan ini yang mengambil sikap "Dovish", berbeda dengan komentar pejabat The Fed
sebelumnya yang lebih bersifat agresif, semakin menimbulkan ketidakpastian terhadap kenaikan suku bunga. Adapun laporan dari Nikkei bahwa Bank Of Japan bisa kembali menurunkan suku bunga negatif pun ikut mempengaruhi penurunan indeks di bursa Wall Street.

Penurunan harga komoditas minyak yang terjadi semalam juga turut menjadi penekan indeks di bursa Eropa. Indeks FTSE 100 turun 0.53% ke level 6,665.63, indeks CAC 40 melemah 1.19% ke level 4,387.18 , dan indeks DAX terkoreksi 0.43% ke level 10,386.60. Pelemahan yang terjadi pada bursa Eropa sejak awal bulan ini merupakan cerminan dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan The Fed yang akan menaikkan Suku bunga pada September ini, diikuti oleh perlambatan langkah-langkah stimulus dari Bank Sentral Eropa, sehingga memicu terjadinya aksi jual di pasar obligasi maupun saham.

Prediksi

IHSG berpeluang rebound pada perdagangan hari ini dengan bergerak pada kisaran 5208- 5293. Secara teknikal, indikator stochastic oscillator sudah berada di area oversold, RSI lemah dan MACD negatif. Pergerakan pasar saham hari ini, diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen kenaikan suku bunga The Fed dan realisasi dari tebusan Tax Amnesty. (drk/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads