Masih dalam suasana liburan, transaksi bursa saham kemarin masih belum terlalu ramai. Pada hari kedua perdagangan di tahun ini, bagaimana perdagangan saham hari ini?
Hari ini, saya lihat mulai akan bermunculan berbagai sentimen dari luar yang dapat memacu pergerakan bursa hari ini. Sentimen apa sajakah itu? Lalu saham apa saja yang akan terkena dampaknya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarin, IHSG ditutup melemah 0,40% ke level 5.275,971, diakibatkan masih dominannya aksi profit taking akibat kenaikan IHSG pada detik-detik terakhir pergantian tahun.
Saya lihat IHSG hari ini akan berpotensi menguat mencoba mendekati resistennya di 5.320.
Setelah kemarin saham-saham Big Caps telah terjadi konsolidasi akibat profit taking, seperti BBRI, ADHI, UNVR, dan juga saham-saham lainnya yang sempat Anda beli di area support beberapa waktu yang lalu.
Beberapa saham berkapitalisasi besar seperti BBRI dan saham banking lain hari ini masih berpotensi untuk menguat terbatas. Meski demikian, tetap waspadai aksi profit taking jangka pendek.
Untuk sementara ini, volatilitas pasar masih cukup tinggi jelang dilantiknya Trump sebagai presiden. Oleh karena itu, jika Anda trading saham-saham banking/blue chips, saat ini sebaiknya untuk swing trading saja.
Lalu, saham sektor apa saja yang patut untuk dilirik?
Sentimen hari ini datang dari China, apa saja sentimennya?
1. Manufaktur China Membaik, Tembaga Menguat
Pada hari Selasa, harga tembaga di bursa Comex untuk kontrak Maret 2017 naik 2,8 poin menjadi US$ 253,35 per pon. Data PMI China memberikan dorongan kuat terhadap harga logam seperti tembaga.
Sentimen ini meningkatkan proyeksi pertumbuhan permintaan di tengah rencana pemerintah dalam membangun infrastruktur. Data manufaktur Caixin Purchasing Managers Index (PMI) China periode Desember 2016 mencapai 51,9, tertinggi sejak Januari 2013 sekaligus naik dari November sebesar 50,9. Indeks di atas 50 menandakan adanya ekspansi di sektor industri.
Presiden Trump juga berencana meningkatkan belanja infrastruktur, sementara pemerintah China melonggarkan kebijakan moneter untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Negeri Panda bakal memompa 4,7 triliun yuan (US$ 721,8 miliar) ke dalam sektor transportasi dalam tiga tahun ke depan. Trump berjanji mengalokasikan dana US$ 550 miliar dalam rencana lima tahun untuk membangun jalan, bandara, dan jembatan.
Aktivitas manufaktur di dua negara konsumen utama, yaitu AS dan China, juga mengalami peningkatan. PMI Manufaktur AS periode November mencapai 53,2, naik dari bulan sebelumnya 51,9.
Lalu, apakah berarti saham sektor pertambangan seperti NIKL, GDST dan BAJA akan mengalami penguatan?
Sebaiknya Anda cermati selama beberapa waktu ke depan dan tidak hanya sehari ini saja karena bisa jadi baru akan jalan beberapa hari ke depan.
2. Jelang Imlek, Harga Emas Mulai Naik
Harga emas diperkirakan meningkat dalam waktu dekat seiring dengan meningkatnya permintaan China menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. harga emas spot naik 0,1% menuju ke US$ 1.148,66 per troy ounce (Rp 498.004 per gram).
Sementara emas Comex kontrak Februari 2017 merosot 0,25% menjadi US$ 1.148,8 per troy ounce. Harga emas naik 8,1% secara tahunan (year on year/yoy) pada 2016, setelah tiga tahun sebelumnya mengalami koreksi berturut-turut. Kini harga akan terdorong oleh proyeksi peningkatan permintaan China menjelang perayaan Imlek yang jatuh pada 28 Januari 2017.
Momen Imlek di China kerap digunakan untuk pemberian hadiah perhiasan, sehingga emas mendapatkan dukungan dari sisi fundamental. Sentimen tersebut akan membantu nilai batu kuning melampaui tekanan dari dolar Amerika Serikat.
Sementara itu, Harga minyak kelapa sawit atau CPO melanjutkan tren penguatan seiring dengan pelemahan ringgit dan cuaca hujan yang menghalangi proses produksi. Harga CPO kontrak Maret 2017 naik 54 poin atau 1,74% menuju 3.163 ringgit per ton. Tahun lalu, CPO menguat 21,97%.
Sedangkan, harga minyak WTI kontrak Februari 2017 berada di posisi US$ 54,92 per barel, naik 2,23%. Sementara minyak Brent kontrak Februari 2017 bertengger di US$ 58,06 per barel, meningkat 2,18%.
Harga minyak memanas ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir seiring dengan pemangkasan produksi oleh Kuwait dan Oman. Faktor ini mengisyaratkan realisasi pemotongan suplai antara OPEC dan negara produsen lainnya.
Salam profit,
Ellen May (drk/drk)











































