IHSG Diperkirakan Melejit ke 6.000, Seiring Pemulihan Ekonomi

IHSG Diperkirakan Melejit ke 6.000, Seiring Pemulihan Ekonomi

Bahana Securities - detikFinance
Selasa, 10 Jan 2017 06:52 WIB
IHSG Diperkirakan Melejit ke 6.000, Seiring Pemulihan Ekonomi
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Kondisi global masih penuh dengan ketidakpastian, hal ini tentunya akan sangat mempengaruhi Indonesia. Dalam bulan ini, atau tepatnya pada 20 Januari, presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akan resmi memerintah negeri Paman Sam.

Investor dan seluruh penduduk dunia pastinya sudah menanti akan seperti apa jajaran menteri yang akan dipilih dan kebijakan yang akan diambil oleh Trump. Sementara itu negara-negara di Eropa seperti Jerman, Belanda, dan Perancis juga akan mengadakan pemilu.

Melihat tantangan yang masih membayangi global, pemerintah juga terbilang konservatif dalam mematok target asumsi ekonomi makro untuk sepanjang tahun ini. Dalam postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang telah disepakati oleh parlemen, pemerintah hanya mematok pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%, terbilang stagnan dibandingkan pencapaian tahun lalu yang diperkirakan sekitar 5%. Sementara itu, Bahana Securities lebih optimistis dalam memandang perekonomian pada tahun ini.

Dalam riset terkini, Bahana memperkirakan ekonomi bakal tumbuh 5,3%, dengan asumsi Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, sehingga daya beli masyarakat akan tetap terjaga kuat. Belanja pemerintah diperkirakan akan menjadi katalis bagi perekonomian, setelah pemerintah sukses dengan program tax amnesty. Membaiknya harga komoditas di pasar global memberi dampak positif bagi ekspor Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Meski ada tekanan dari rencana kenaikan tarif listrik, namun inflasi masih akan terjaga di bawah 4% sepanjang 2017, sedangkan selisih suku bunga obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun dengan suku bunga US t-bills diperkirakan masih akan stabil sekitar 550 basis poin, meski The Fed akan menaikkan suku bunga sepanjang tahun ini, sehingga BI masih punya ruang untuk memotong suku bunga selama dinamika inflasi dan stabilitas keuangan masih bisa tetap terjaga," kata Kepala Riset dan Strategi Bahana Securities, Harry Su, dalam keterangannya, Selasa (10/1/2017).

Bahana memperkirakan rata-rata inflasi sepanjang 2017 akan berada pada kisaran 3,7%, sudah dengan asumsi adanya kenaikan tarif listrik. Pemulihan ekonomi pada akhirnya memberi dampak pada peningkatan barang impor dan berujung pada kenaikan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan mencapai 2,3% dari pertumbuhan ekonomi, dibanding perkiraan tahun lalu sekitar 2%.

Dengan berbagai optimisme dalam perekonomian versi Bahana Securities, sekuritas milik pemerintah ini meyakini, indeks harga saham gabungan atau yang lebih dikenal dengan IHSG bakal melesat hingga 6.000, naik sekitar 13% dibanding harga penutupan tahun lalu sebesar 5.296.

"Dalam roadshow yang kami lakukan ke Eropa pertengahan Desember lalu, investor memberi penilaian negatif terhadap situasi politik Indonesia, penyelesaian kasus hukum yang menjerat Ahok menjadi salah satu pertimbangan penting bagi investor dalam merencanakan investasi mereka di Indonesia," kata Harry.

"Pemilihan gubernur DKI Jakarta dengan tiga pasangan dari tiga kubu politik, akan menjadi gambaran atas apa yang dapat terjadi pada pemilihan presiden pada 2019," tambah Harry.

Bila Indonesia mampu mengatasi kegaduhan politik dengan benar, Bahana meyakini, pondasi pemerintah untuk melaju dengan pesat dan menarik investasi akan semakin kuat. Dengan bauran antara optimisme dan kegaduhan politik yang membayangi Indonesia sepanjang tahun ini, Bahana merekomendasikan beli untuk saham Astra Internasional (ASII) dengan target harga Rp 10.000, Telkom (TLKM) dengan target harga Rp 5.000, Wijaya Karya (WIKA) dengan target harga Rp 3.267, dan Ciputra Development (CTRA) dengan target harga Rp 1.800. (wdl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads