Sektor Komoditas dan Property Melaju, Jelang Trump Dilantik

Sektor Komoditas dan Property Melaju, Jelang Trump Dilantik

Ellen May - detikFinance
Rabu, 18 Jan 2017 10:35 WIB
Sektor Komoditas dan Property Melaju, Jelang Trump Dilantik
Foto: Dokumentasi Ellen May
Jakarta - Hanya tinggal 2 hari lagi jelang pelantikan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat pada 20 Januari mendatang.

Sementara saham big caps dan indeks bergerak stagnan menanti pelantikan Trump sebagai presiden, beberapa saham berkapitalisasi kecil yang menjadi pilihan saham-saham ajaib dari November-Desember Premium Insight mulai melenggang.

Meski sektor property masih akan melaju dan melanjutkan rally nya, hari ini saya lihat sektor pertambangan / komoditas, khususnya coal dan juga CPO sangat berpotensi untuk turut meramaikan panggung bursa. Saham apa saja yang akan kita pilih?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sambil kita bahas saham potensial hari ini di #kopipagi, yuk kita simak mengenai ulasan pasar kemarin dan juga cerita di balik terpilihnya Trump sebagai presiden di #kopipagi 18 Januari 2017 ini.

1. Summary Market & Pre Market Today:
Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa kembali ditutup melemah 0,06% ke level 5.266,94. Sementara itu Dow Jones hari ini juga kembali ditutup melemah -0,30% di level 19.826.77.

Hari ini, saya lihat IHSG masih akan bergerak dengan range mixed yang sama seperti kemarin, antara 5250 - 5350. Selain pelantikan Trump, pemerintah Inggris yang saat ini tengah menyusun rencana untuk meyakinkan investor bahwa rencana "Hard Brexit" oleh Theresa May akan sebabkan lebih banyak lagi gejolak pada pasar.

10 Year Bond Yield Indonesia di level 7.805, turun 0.028 atau turun 0.36%. Hal ini memberikan dampak positif untuk pergerakan IHSG.

Sementara itu, harga coal mulai mengalami teknikal rebound untuk jangka pendek.

Berdasar data yang saya olah dari beberapa sumber, untuk kontrak Januari (Newscastle) harga batubara menguat 1.99%, sedangkan untuk kontrak Februari (Newcastla) harga batubara mulai menguat 1.63%.

Sementara itu untuk kontrak Januari (Rotterdam), harga batubara menguat 1.33% dan untuk kontrak Februari harga batubara menguat 3.27 %.

Hal ini akan memberi angin segar buat sektor batubara dalam jangka waktu Januari – Februari 2017, dan memberi sinyal positif untuk saham-saham batubara yang sudah lama stagnan seperti ADRO, ITMG, PTBA, dan Iainnya.

2. Di Balik Terpilihnya Trump Sebagai Presiden
Benarkah publik berharap Trump memimpin Amerika menggantikan Presiden saat ini, yaitu Barack Obama? Lalu, siapakah yang paling harus kita khawatirkan saat ini, Trump atau kah China?

Alasan Warga Amerika Pilih Trump
Pemilihan presiden Amerika Serikat menjelma menjadi salah satu kontes terbesar "tidak populer" di dunia. Persaingan antara Hillary Clinton dan Donald Trump seolah menjadi konsumsi publik internasional. Hampir setengah pemilih Amerika yang mendukung baik Hillary Clinton dari Partai Demokrat maupun Donald Trump menuju Gedung Putih mengatakan, mereka terutama akan mencoba memblokir sisi lain dari pemenang. Fenomena ini disebut keberpihakan negatif. Jika kita mencoba untuk memaksimalkan efek, kita tidak bisa menemukan calon yang lebih baik dari Trump dan Clinton.

Fenomena ini pula, yang menjadi alasan utama dibalik kemenangan Trump. Apa yang dimaksud dengan "Keberpihakan Negatif"? Ini bisa dibilang merupakan salah satu taktik politik, yaitu dengan cara menimbulkan semua efek negatif seolah-olah dirinya lebih buruk dari pesaingnya. Namun, yang dimaksud dengan buruk disini ialah memborbardir massa dengan berbagai konflik dan kontra, memutar balikkan pola pikir masyarakat dan mendapatkan simpati dari masyarakat bahwa hanya itu saja keburukan yang dimilikinya jika dibandingkan dengan lawannya.

Trump telah memenangkan banyak pendukung dan menerima kritik tajam atas bicara kasarnya dan usulan garis kerasnya, termasuk seruannnya melarang Muslim memasuki Amerika Serikat. Ia juga bersumpah memaksa Meksiko membayar dinding perbatasan dan berjanji menegosiasikan kembali kesepakatan perdagangan internasional. Sementara itu, pemilih melihat mantan Menteri Luar negeri Clinton akan berkesinambungan dengan kebijakan Presiden Barack Obama. Tetapi banyaknya warga yang merasa kecewa dengan kurangnya kemajuan selama masa pemerintahan Obama dan belum pernah adanya presiden wanita di Amerika, membuat masyarakat terpaksa memilih Donald Trump.

Jajak pendapat menanyakan pemilih tentang motivasi utama mereka mendukung Trump atau Clinton pada pemilihan 8 November lalu. Sekitar 47 persen dari pendukung Trump mengatakan, mereka mendukungnya terutama karena tidak ingin Clinton menang. Sebanyak 43 persen lainnya mengatakan, motivasi utama mereka adalah keinginan untuk posisi politik Trump, sementara enam persen mengatakan menyukainya secara pribadi.

Tanggapan serupa juga berlaku di kalangan pendukung Clinton.
Sekitar 46 persen mengatakan, mereka akan memilih Clinton terutama karena mereka tidak ingin melihat presiden Trump, sementara 40 persen mengatakan setuju dengan posisi politiknya dan 11 persen lainnya mengaku menyukainya secara pribadi.

3. Ekonomi China, Lebih Berdampak daripada Trump
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan risiko perlambatan ekonomi China memiliki dampak lebih besar dibandingkan risiko implementasi kebijakan Donald J. Trump usai resmi menjabat Presiden Amerika Serikat (AS) tahun ini. Dari semua risiko ekonomi yang ada di Indonesia, risiko dari China, risiko Amerika, plus risiko domestik, ternyata yang paling besar dampaknya pertama adalah moderasi ekonomi China, kedua risiko dari Amerika, dan ketiga adalah risiko dari domestik.

Hal yang menjadi perhatian dari China ialah, perlambatan ekonominya yang dipicu oleh naiknya utang dan kredit bermasalah (NPL) di negara tirai bambu tersebut. Hal itu akan berdampak pada tertahannya investasi. Hal ini sejalan dengan keinginan China untuk melakukan transisi dari perekonomian yang ditopang oleh investasi ke arah konsumsi. Tidak hanya berdampak negatif bagi Indonesia, perlambatan ekonomi China berpotensi menekan pertumbuhan negara lain, khususnya mitra dagang dan negara-negara penghasil komoditas. jika skenario perlambatan ekonomi China terjadi tahun depan, maka ekonomi Indonesia akan melambat 0,72 persentase poin (pp) dari basis pertumbuhan ekonomi (baseline) tahun depan.

Sementara, jika Trump menjalankan seluruh kebijakan sesuai dengan yang dijanjikannya saat kampanye, ekonomi Indonesia tahun depan akan merosot 0,41 pp. Sumber penurunan terbesar berasal dari investasi yang diperkirakan akan turun 0,89 pp seiring dengan kemungkinan keluarnya investasi dalam negeri ke Amerika.

Indonesia yang saat ini sedang masuk masa recovery, dengan pondasi ekonomi semakin baik dengan arahan dari bu Ani (Menteri Keuangan Sri Mulyani), tidak perlu terlalu risau akan kondisi global. Biar bagaimanapun, perekonomian dalam negeri, tetap menjadi fundamental utama pergerakan pasar tahun ini. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads