Follow detikFinance
Kamis 26 Jan 2017, 08:32 WIB

Saham BUMI Mulai Aktif

Ellen May - detikFinance
Saham BUMI Mulai Aktif Foto: Istimewa
Jakarta - Pagi ini, Indeks Dow Jones merayakan keberhasilannya menorehkan sejarah baru, menembus level tertinggi 20.000 sepanjang masa. Sementara itu, dari dalam negeri, pemerintah berencana keluarkan tarif ekspor baru untuk mineral dan barang tambang, dan nikel.

Apa isi peraturannya? Apa saham yang akan terpengaruh? Bagaimana dampaknya terhadap IHSG?

Sementara itu saham BUMI masuk dalam LQ 45. Pertanda apakah ini ?

Setelah sebelumnya pemerintah memberikan pelonggaran untuk melakukan ekspor mineral mentah demi tingkatkan ekspor komoditas Indonesia di sektor pertambangan, kini pemerintah berencana mengeluarkan tarif ekspor baru untuk mineral dan barang tambang.

Terkait hal tersebut, kali ini saya akan membahas mengenai harga nikel terkait aturan ekspor yang baru setelah sempat tergelincir akibat pelonggaran di sektor pertambangan.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, mari kita lihat terlebih dahulu, review perdagangan saham kemarin.

Pre Market Today : BUMI Masuk LQ 45

IHSG pada sore kemarin berhasil kembali menguat meskipun terbatas, dengan penguatan sebesar 0,03% ke level 5.293,78. Meskipun menguat, IHSG masih rawan terkoreksi, mengingat masih berada dalam area konsolidasinya. IHSG masih akan bergerak mixed dalam range 5.250-5.350.

Sementara itu, Bursa saham Amerika ditutup menguat pada perdagangan Rabu kemarin, di tengah laporan kinerja emiten yang solid dan optimisme atas kebijakan pro-pertumbuhan Presiden Donald Trump.

Indeks Dow Jones Industrial Average menembus level 20.000 untuk pertama kalinya dan ditutup menguat atau 0,78% ke posisi 20.068,51.

Selain dari Amerika, ada hal menarik dari bursa mengenai indeks LQ 45. PT Bursa Efek Indonesia kembali merilis daftar 45 saham paling likuid di lantai bursa.

Sebanyak 3 saham masuk ke dalam daftar Indeks paling bergengsi LQ-45 menggantikan 3 lainnya, di mana salah satu yang masuk adalah saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI).

Ada 3 saham yang terlempar dari Indeks LQ45. Ketiga saham tersebut adalah PT Global Mediacom Tbk. (BMTR), PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA), dan PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) Posisi ketiga saham tersebut digantikan oleh saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan saham PT PP Properti Tbk. (PPRO).

Masuknya BUMI dalam LQ45 menjadi penanda bahwa saham dari group Bakrie tersebut mulai aktif. BUMI sendiri masih berada dalam tren naiknya untuk jangka menengah, sementara dalam jangka pendek mulai rawan profit taking.

Dalam Premium Access, beberapa saham dari group Bakrie juga sudah mulai berbunga bahkan hingga 30% lebih. Meski demikian, waspadai volatilitas dan likuiditasnya, perhatikan dan strict pada Key Action Strategy yang digunakan di Premium Access Hot List ( bit.ly/joinpremiumaccess )

Lalu, bagaimana dengan INCO? Langsung saja kita simak, ini dia pembahasannya.

Percepat Pembangunan Smelter, Kemenkeu Naikkan Tarif Ekspor

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan tarif maksimal baru bea keluar ekspor konsentrat mineral dan barang tambang sebesar 10 persen. Angka itu sesuai rekomendasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Kenaikan tarif itu dilakukan untuk meningkatkan inisiatif perusahaan tambang untuk membangun fasilitas pemurnian mineral atau barang tambang (smelter). Karenanya, bagi perusahaan yang belum melakukan pembangunan smelter, atau kemajuan konstruksi nol persen, perusaha tersebut akan dikenakan tarif bea keluar tertinggi.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, penetapan tarif baru bea keluar merupakan tindak lanjut dari diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas PP Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 153/PMK.011/2014 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar, tarif bea keluar dipungut sebesar 7,5% apabila pembangunan smelter antara 0-7,5%. Kemudian bea keluar 5% bila pembangunan smelter mencapai 7,5 - 30%. Sementara, jika progres pembangunan smelter di atas 30 persen maka eksportir tidak dikenakan bea keluar.

Peraturan ini secara tidak langsung akan menekan produksi barang-barang hasil tambang seperti nikel yang sebelumnya sempat meningkat akibat aturan relaksasi ekspor mineral oleh pemerintah. Diperkirakan bahwa dengan adanya peraturan tersebut, maka ekspor nikel dari Indonesia hanya akan sebesar 3% di pasar global. Turunnya jumlah nikel dipasaran akan menyebabkan harga nikel perlahan naik, namun hal tersebut belum tentu langsung serta merta menaikkan harga nikel.

Saham INCO yang sektor utama usahanya adalah nikel kemungkinan akan mendapat pengaruh terbesar dari adanya peraturan baru tarif ekspor tersebut. Akibat peraturan relaksasi minerba yang lalu, saham INCO langsung jatuh hingga 16% ke level 2.400.

Setelah sempat jatuh, kini INCO bergerak terkonsolidasi di level 2.200-2.600. Manfaatkan pantulan/teknikal rebound untuk swing trading, dan area 2.600 untuk mengurangi posisi ataupun profit taking.

Dapatkan update Key Action Strategy saham-saham terbaik, dan perhatikan kinerja saham-saham yang direkomendasi dalam Premium Access, jauh di atas kinerja IHSG. Join sekarang sebagai member di bit.ly/daftarpremiumaccess

Salam profit (wdl/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed