ADVERTISEMENT

Ada Clean Coal Technology, Apa Efeknya ke Industri Batu Bara?

Ellen May - detikFinance
Rabu, 01 Feb 2017 10:32 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Selain keputusan kemarin, pergerakan IHSG pada Selasa lalu juga dipengaruhi oleh pelemahan rupiah yang terjadi menjelang rapat The Fed yang dijadwalkan pada pertengahan minggu ini.

Jeleknya pertumbuhan PDB Amerika pada kuartal IV 2016 yang direvisi turun ke 1,9% YoY dari 3,5% YoY juga mempengaruhi pergerakan indeks global. Konsolidasi IHSG menjelang pergantian bulan ini masih terbilang wajar mengingat penantian para trader untuk melihat data perekonomian pada awal bulan ini.

Di lain sisi, pemanasan global yang semakin parah di 2017 ini mendorong pemerintah untuk segera mengambil tindakan untuk mengurangi efeknya. Salah satunya ialah dengan memanfaatkan batu bara sebagai pembangkit listrik efisien yang lebih ramah lingkungan.

Apa teknologi yang dimaksud? Bagaimana perkembangan teknologi tersebut? Apa efeknya terhadap komoditas batu bara? Sambil menyambut awal bulan februari ini, mari kita simak ulasan selengkapnya, hanya di #Kopipagi 1 Februari 2017.

Batu bara merupakan salah satu sumber energi yang tidak ramah lingkungan. Namun, teknologi terbaru dikabarkan bisa meminimalisir efek samping tersebut.

Teknologi apa yang dimaksud? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini. Tapi sebelum itu, mari kita lihat review perdagangan kemarin.

IHSG kemarin masih terjebak diarea konsoidasi dengan pelemahan sebesar 0,16% di level 5,294.10. Pergerakan ini dipengaruhi oleh aksi para trader untuk melihat rilis data pada awal bulan ini, serta pertemuan The Fed yang akan bisa kita ketahui hasilnya pada Kamis pagi nanti.

Sementara itu, Dow Jones kembali melemah hingga 0,54% ke level 19,864.09. Gagalnya IHSG menembus resistancenya di 5320, membuatnya kini masih terjebak di area konsolidasi. Saya lihat IHSG hari ini kembali akan bergerak mixed dalam range 5250-5320.

Pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi sudah dilakukan sejak lama. Namun, hasil pemakaian atau pembakarannya yang tidak sempurna membuat pemerintah dunia menciptakan inovasi-inovasi terbaru untuk mengolah batu bara agar lebih optimal. Inovasi apakah itu? Mari kita simak pembahasannya.

Clean Coal Technology (CCT)

Teknologi batu bara Bersih adalah teknologi yang dikembangkan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan dari pemakaian batu bara. Pembangkit listrik "batu bara bersih" pertama kali beroperasi di dunia pada bulan September 2008 di Spremberg, Jerman.

Pembangkit ini dimiliki oleh perusahaan Swedia Vattenfall dan telah dibangun oleh perusahaan Siemens Jerman. Pembangkit ini disebut Pembangkit Listrik Schwarze Pumpe.

Clean coal technology (CCT) yang kini tengah dikembangkan di Jerman diyakini bisa mengurangi kadar emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran batu bara. Rencana penggunaan teknologi CCT ini, diakibatkan oleh pemanasan global yang terjadi saat ini.

Peluang penguatan harga batu bara datang dari munculnya teknologi baru dalam pengolahan batu bara yang lebih ramah lingkungan melalui penggunaan teknologi CCT tersebut. Sekarang di Indonesia juga sudah mulai mengembangkan teknologi CCT itu.

Dalam pengujian yang dilakukan sebanyak 100.000 ton batu bara bisa diubah menjadi 3.600 miliar metric british thermal unit (mmbtu) per hari. Nantinya gas yang dihasilkan bisa digunakan untuk industri dalam negeri.

Teknologi ini bisa menjadi solusi penipisan stok batu bara sampai tahun 2035, bahkan bisa mengalahkan pamor minyak dan gas bumi

Kendala teknologi ini hanya tinggal bergantung pada persoalan biaya. Agar bisa menghasilkan 1.000 metrik ton turunan gasifikasi batu bara dibutuhkan investasi hingga Rp 13 triliun.

Jika nantinya teknologi CCT ini diterapkan, tentu saja akan mendongkrak naiknya permintaan batu bara dunia, dan akan membuat harga batu bara terus melambung.

Diperkirakan sampai akhir kuartal I 2017 harga batu bara akan bertengger di kisaran US$ 75,80-US$ 85 per metrik ton.

Komitmen Indonesia dan CCT

Teknologi CCT yang hingga saat ini masih terus dikembangkan di Indonesia membuat pemerintah berkomitmen untuk menggunakan teknologi yang efisien tanpa menimbulkan polutan penyebab pemanasan global.

Saat ini pemerintah tengah mengerjakan program listrik 35.000 MW bersama Independent power producer (IPP) yang didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) atau 56,97% dari total pembangkit listrik yang dibangun.

Untuk mengurangi polusi yang timbul, pemerintah mendorong penggunaan teknologi efisiensi tinggi seperti Clean Coal Technology (CCT) untuk PLTU utamanya disystem kelistrikan Sumatera.

Clean Coal Technology (CCT) tidak sepenuhnya menghilangkan emisi menjadi nol atau mendekati nol, tetapi lebih bermakna bahwa emisi yang dihasilkan lebih sedikit.

Meskipun begitu, Clean Coal Technologies (CTT) dapat mengurangi emisi dari beberapa polutan dan limbah serta peningkatan energi yang dihasilkan dari tiap ton batu bara.

Dengan demikian maka teknologi CCT untuk PLTU saat ini lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pembangkit listrik dengan sumber energi lainnya.

Dalam acara Workshop Building Pathways for High Efficiency Low Emissions Coal In Indonesia beberapa waktu yang lalu, penerapan teknologi ramah lingkungan untuk PLTU tersebut sesuai dengan Paris Agreement pada Konvensi Para Pihak (Conferences of Parties-COP) UNFCCC ke-21 di Paris tahun 2015. T

eknologi PLTU bersih melalui CCT merupakan salah satu upaya untuk mengendalikan kenaikan suhu bumi yang tidak lebih dari 2 derajat. Jerman menambahkan, kebutuhan PLTU batu bara akan mendominasi program 35.000 MW dengan porsi sebesar 56,97% dari total pembangkit listrik yang direncanakan. Kebutuhan batu bara untuk PLTU saat ini mencapai 87,7 juta ton. Seiring dengan pembangunan program ketenagalistrikan 35.000 MW, kebutuhan batu bara diperkirakan meningkat menjadi 166,2 juta ton pada tahun 2019.

Pada COP-21 di Paris, Presiden Joko Widodo telah mendeklarasikan komitmen Indonesia ikut aktif menurunkan emisi CO2 (Gas Rumah Kaca-GRK) sebesar 29% di tahun 2030. Dan melalui dokumen Intended Nationally Determined Contributions (INDCs), Indonesia mencantumkan kegiatan pembangunan PLTU batu bara dengan menggunakan teknologi efisiensi tinggi seperti Clean Coal Technology untuk mencapai 29% penurunan emisi GRK di tahun 2030.

Perjanjian tersebut tidak hanya dapat mengurangi emisi serta efek dari pemanasan global di dunia. Akan tetapi juga memberikan sentimen positif untuk sektor pertambangan batu bara.

Jika rencana pemerintah untuk menggunakan teknologi CCT sebagai salah satu teknologi utama yang akan digunakan sebagai sumber listrik Indonesia benar-benar terealisasi, maka permintaan batu bara otomatis akan meningkat tajam.

Lalu, bagaimana dengan saham-saham yang menggunakan batu bara sebagai kegiatan usaha utamanya? Dengan adanya kenaikan permintaan tersebut, harga batu bara berpotensi akan melejit sehingga dapat meningkatkan pendapatan saham-saham di sektor pertambangan seperti BIPI, HRUM, DEWA dan BUMI. Kenaikan pendapatan tersebut juga akan mempengaruhi pergerakan saham-saham tersebut. (ang/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT