Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 23 Feb 2017 09:28 WIB

Apa Strategi Pemerintah Atasi Ekspor CPO yang Melemah?

Ellen May - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Bicara tentang CPO. Sebenarnya apa yang menyebabkan sektor CPO melambat? Apa strategi berikutnya? Bagaimana rekomendasi trading hari ini?

Sementara itu, IHSG kemarin akhirnya rebound setelah mengalami pelemahan beberapa hari. Bagaimana update selanjutnya?

Sebelum membahas strategi trading sektor CPO, yuk kita ulas dulu perdagangan kemarin.

Review Market

IHSG pada perdagangan kemarin, ditutup menguat 0,33% di level 5,358.68. Sementara itu, asing kembali melakukan net sell meskipun hanya sebesar Rp 95 miliar. Hal ini diperkirakan karena IHSG masih dibayang-bayangi oleh sentimen bursa global, terutama FOMC meeting yang kemungkinan hasilnya akan segera keluar hari ini. Saat ini IHSG masih stagnan di area 5300-5350.

Dow Jones terus lanjutkan kenaikan sebesar 0,16% ke level 20,775.60, berbanding terbalik dengan EIDO yang justru alami pelemahan sebesar -0,04% ke level 24,62.

Ulasan Khusus Sektor CPO

Selama beberapa waktu terakhir ini, sektor CPO terus mengalami pelemahan yang diakibatkan oleh berbagai hal, terutama masih kurangnya pangsa pasar atau tujuan ekspor CPO.

Melihat hal itu, pemerintah Indonesia pun mulai melakukan berbagai cara untuk mengatasinya, salah satunya yaitu dengan merencanakan negara tujuan ekspor baru yaitu Pakistan. Lalu, bagaimana perkembangannya?

Baru-baru ini, Indonesia tengah gencar untuk meningkatkan pangsa pasarnya di pasar CPO negara Pakistan. Sebenarnya, apa yang menyebabkan hal itu? Kenapa RI lebih mengincar pasar Pakistan dibanding pasar negara lainnya? Simak jawabannya berikut ini.

Perdagangan Bilateral Indonesia-Pakistan

Penurunan CPO selama 4 hari berturut-turut, membuat Indonesia mempertimbangkan untuk memperkuat ekspor CPO nya ke salah satu negara yang melakukan kerja sama perdagangan dengannya, yakni Pakistan.

Penyebab utamanya ialah, karena negara sedang berkembang ini telah menyumbangkan surplus perdagangan yang cukup signifikan bagi Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa total perdagangan kedua negara bahkan melonjak hingga 36,6% dalam 3 tahun terakhir. Untuk menjaga pertumbuhan tersebut, Indonesia telah melaksanakan The 2nd Joint Committee Meeting (JCM) for the Review Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) pada 16-17 Februari 2017 lalu.

Dalam pertemuan tanggal 16-17 Februari itu, terdapat bebarapa hal yang dibahas dalam pertemuan ini. Salah satunya adalah potensi ekspor Indonesia ke Pakistan. Berdasarkan hasil rapat tersebut, diketahui bahwa ternyata tingkat ekspor produk CPO Indonesia ke Pakistan masih berada di level 60%, belum mencapai target sebesar 100%. Tak hanya itu, Indonesia juga berkepentingan melakukan perjanjian IP-PTA dengan tujuan meningkatkan cakupan IP-PTA atau meningkatkan status IP-PTA menjadi Indonesia Pakistan Trade in Goods Agreement (IP-TIGA). Hal ini pun masih menunggu keputusan dari Pakistan.

Ekspor produk CPO merupakan kontributor utama surplus perdagangan Indonesia dengan Pakistan. Implementasi IP-PTA telah membuat Indonesia sebagai sumber impor utama Pakistan untuk produk CPO. Semenjak adanya perjanjian itu, Indonesia telah mengirimkan berbagai produk ekspor seperti minyak kelapa sawit (US$ 1,3 miliar), other nuts (US$ 97,97 juta), batubara (US$ 68,56 juta), yarn (other than sewing thread) (US$ 59 juta), dan paper and paperboard (US$ 50,4 juta).

Diharapkan dengan meingkatnya ekspor Indonesia ke Pakistan, akan dapat menjaga kestabilan harga CPO yang terus menurun akhir-akhir ini.

Mulai reboundnya harga CPO merupakan sentimen positif untuk saham-saham yang berada di sektor pertanian, seperti GZCO, BWPT, dan SSMS yang sempat terkoreksi akibat penurunan CPO yang lalu. Meski demikian, dampaknya mungkin belum akan terasa hari ini, karena market saat ini masih mendiscount efek dari penurunan harga CPO beberapa waktu yang lalu. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com