Ini Hubungan Antara Turunnya Harga Minyak dan Kunjungan Raja Salman

Ini Hubungan Antara Turunnya Harga Minyak dan Kunjungan Raja Salman

Ellen May - detikFinance
Senin, 27 Feb 2017 09:16 WIB
Ini Hubungan Antara Turunnya Harga Minyak dan Kunjungan Raja Salman
Foto: Istimewa
Jakarta - Keputusan The Fed dari hasil FOMC Meeting pekan lalu, membuat laju dolar tertahan akibat tidak adanya kebijakan ataupun dorongan yang signifikan terhadap dolar. Hal ini akhirnya mulai membuat harga-harga di beberapa komoditas kembali cemerlang, namun tidak halnya dengan komoditas minyak mentah dunia.

Apa yang menghambat kenaikan minyak? Lalu, apakah hal ini ada hubungannya dengan kunjungan Raja Salman dengan turnya di benua Asia? Mengawali awal pekan Anda hari ini, mari kita simak jawabannya hanya di #Kopipagi 27 Februari 2017.

Setelah berhasil rebound beberapa waktu lalu, kini IHSG telah berhasil menguat hingga hari ke-3. Bagaimana pergerakannya? Simak dalam review IHSG hari ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG pada perdagangan pekan lalu di tutup menguat sebesar 0,26% di level 5,372.75, ditengah hasil FOMC Meeting yang menyatakan akan segera menaikkan suku bunga apabila data inflasi dan tenaga kerja sesuai ekspektasi.

Laju dolar Amerika hingga hari ini masih tertahan dan mulai terkonsolidasi setelah mencapai puncaknya, menunggu kepastian kebijakan lanjutan dari Trump, terutama masalah reformasi pajak.

Sementara itu, Dow Jones pada perdagangan pagi ini menguat terbatas 0,05% ke level 20,821.76, para trader masih mengamati perkembangan dari pemilu presiden Perancis dan rencana Brexit Inggris.

Hingga saat ini, harga minyak masih bergerak flat cenderung melemah. Mulai tersainginya Arab Saudi sebagai negara penghasil minyak terbesar oleh Rusia, serta beberapa negara yang terus memproduksi minyak, membuat harga minyak terus terkoreksi. Simak ulasan selengkapnya di kopipagi ini.

Harga Minyak Dunia

Pada perdagangan hari ini, harga minyak mentah dibuka menguat. Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman April di New York Mercantile Exchange pada pk. 06.26 naik 0,09% ke US$54,04 per barel, setelah akhir pekan anjlok 0,84%.

Brent untuk pengiriman April menguat 0,05% ke US$56,02 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Pekan lalu, Brent anjlok 1,04%.

Seperti yang kita ketahui, bahwa anjloknya harga minyak ini diakibatkan oleh produksi Amerika dan Rusia, yang merupakan negara non-OPEC terus meningkat, mengimbangi langkah pembatasan produksi minyak yang dilakukan oleh negara anggota OPEC.

Hal ini juga yang akhirnya mempengaruhi keputusan negara pengekspor utama minyak, Arab Saudi untuk mulai mengganti lini bisnis utamanya di sektor minyak.

Minyak Turun, Aramco rencanakan IPO

Raja Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud akan memulai tur ke empat negara yakni Indonesia, Malaysia, Jepang, dan China pada 1 Maret 2017 mendatang. Diperkirakan kunjungan Raja Salman ke Indonesia, Malaysia, China dan Jepang sekaligus untuk memulai penjajakan rencana penawaran lima persen saham Saudi Aramco, perusahaan migas terbesar yang dimiliki pemerintah. Rencana IPO ini bahkan bisa dibilang sebagai penawaran saham terbesar di dunia.

Aramco diperkirakan memiliki cadangan minyak mentah sekitar 265 miliar barel, lebih dari 15 persen dari seluruh simpanan minyak dunia sehingga bisa menjadi perusahaan pertama yang terdaftar senilai US$ 1 triliun lebih jika perusahaan tersebut go public.

Negara di Asia Tenggara dan Timur, memang menjadi target Saudi untuk memasarkan produk minyak mentahnya. Namun sempat anjloknya harga minyak dunia sejak dua tahun lalu, membuat kerajaan mulai berpikir keras untuk melakukan diferensiasi lini bisnis pemerintah.

Saudi ingin mengurangi ketergantungan dari penerimaan migas. Pada Agustus 2015 lalu, Saudi sudah meneken 15 perjanjian awal dengan Cina. Perjanjian yang disepakati pun bervariasi, mulai dari pembangunan perumahan dan proyek pengairan di Saudi hingga pembangunan kilang minyak. Saat itu, perjanjian dengan Cina dilakukan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Langkah Saudi dengan menggandeng Cina ini dinilai sebagai landasan reformasi ekonomi yang dilakukan Saudi. Selain dengan Cina, Saudi juga menawarkan investasi di sektor teknologi hingga 45 miliar dolar AS dengan Japan SoftBank Group.

Meskipun ingin mengubah ketergantungan bisnis usahanya terhadap minyak, Arab Saudi masih ingin memantapkan posisinya sebagai pengekspor minyak nomor wahid di dunia. Terutama, melihat tantangan China yang ingin menjadi konsumen minyak terbesar terhadap Amerika.

Rencana IPO perusahaan minyak Arab Saudi itu diperkirakan akan menjadi public offering terbesar di dunia, yang dapat menambah jumlah investasi ke negara tersebut. Meskipun begitu, rencana IPO dari Arab Saudi itu diperkirakan tidak akan menganggu capital inflow di Indonesia sendiri, mengingat para trader mengincar saham dengan return terbesar, dan Indonesia merupakan negara ke-2 dengan return terbesar setelah Thailand.

Lalu, apakah IPO tersebut akan berpengaruh terhadap harga minyak dunia? IPO tersebut sebenarnya akan lebih berpengaruh untuk meningkatkan pendapatan negara Arab Saudi sendiri yang sudah mengalami defisit beberapa tahun terakhir, akibat menurunnya harga minyak dunia.

Melemahnya minyak tersebut akan berpengaruh terhadap saham-saham Indonesia di sektor pertambangan minyak, seperti BIPI, ELSA dan ENRG serta saham-saham lainnya. Sekedar tambahan, sejak di recommend melalui Telegram Channel sejak Januari lalu, kini BIPI telah menghasilkan return hingga 100% dalam waktu 1 bulan saja. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads