Setelah sebelumnya sempat memperkuat kerja sama di sektor migas dan perdagangan, kini Indo-Iran kembali ingin meningkatkan kerja sama mereka di sektor CPO. Masih rendahnya ekspor komoditas Indonesia ke timur tengah, terutama CPO membuat pemerintah Indonesia ingin menjadikan Iran sebagai partner untuk membantu memperluas pasar CPO Indonesia.
Lalu, bagaimana detil kerja samanya? Bagaimana cara Indonesia meningkatkan kerja sama tersebut? Sambil menutup perdagangan pada bulan Februari ini, mari kita simak pembahasannya, hanya di #Kopipagi 28 Februari 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG pada perdagangan sore kemarin, ditutup di zona merah, dengan pelemahan terbatas 0,06% di level 5,385.91. Pelemahan IHSG ini disebabkan oleh sikap waspada para trader, menjelang pidato Trump hari ini, serta pernyataan Gubernur The Fed Janet Yellen yang diperkirakan akan terjadi pada akhir pekan minggu ini.
Pada pidato Trump didepan kongres hari ini, Trump diharapkan akan menjabarkan mengenai detail rencana belanja infrastruktur dan pajak yang akan segera dilakukan olehnya. Sementara itu Dow Jones masih terus melanjutkan rallynya dengan penguatan yang mulai terbatas sebesar 0,08% ke level 20,837.44. Berbanding terbalik dengan Dow Jones, hari ini EIDO ditutup anjlok hingga 0,93% ke level 24,56.
Kerja sama antara negara Iran dan Indonesia sudah dilakukan sejak bulan Desember 2016 lalu. Namun, untuk meningkatkan hubungan serta ekonomi dari masing-masing negara, kedua negara tersebut pun mengupayakan untuk terus membentuk kerja sama baru. Kerja sama seperti apa? Langsung saja, kita simak jawabannya berikut ini.
Kerja Sama Indonesia-Iran
Pada 25 November 2016 lalu, pemerintah bersama Iran menandatangani "Agreed Minutes of the Twelfth Session of Joint Commission on Economic and Trade Cooperation between the Republic of Indonesia and the Islamic Republic of Iran". Perjanjian ini merupakan bentuk keseriusan Iran untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia, khususnya dibidang ekspor-impor serta perdagangan dengan melonggarkan batasan untuk melakukan hubungan dagang sebelumnya.
Pada 2015 sebelum adanya perjanjian tersebut, nilai perdagangan Indonesia-Iran mencapai US$ 273,1 juta. Nilai itu turun sejak 2011, yang tercatat sebesar US$ 1,8 miliar. Adapun pada Januari-Agustus 2016, nilai perdagangan kedua negara hanya US$ 150 juta atau lebih rendah dari Januari-Agustus 2015, yakni US$ 195 juta. Selain diakibatkan oleh konflik di negara Iran sendiri, kurangnya perhatian serta peraturan yang terlalu ketat, membatasi hubungan kerja sama antara kedua negara ini.
Setelah sebelumnya sukses memperkuat kerja sama di sektor migas dan perdagangan, kali ini Indonesia akan kembali memperluas jangkauan ekspor CPO-nya hinga ke negara Timur Tengah melalui Iran. Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution memimpin delegasi Indonesia dalam kunjugan ke Iran pada 26-27 Februari 2017 untuk membahas beberapa isu perdagangan, diantaranya Preferential Trade Agreement (PTA).
Bagi Indonesia, PTA sangat penting lantaran pemerintah memiliki misi spesial. Melalui PTA, pengaturan perdagangan bisa dilakukan oleh kedua negara termasuk memprioritaskan masuknya produk-produk unggulan dari Indonesia maupun Iran. Dengan begitu, produk unggulan Indonesia seperti, CPO, karet, tekstil, kertas hingga kopi bisa masuk ke Iran dengan leluasa tanpa terhalang peraturan yang mengikat sebelumnya. Pembahasan PTA ini diharapkan akan segera selesai pada bulan Juni 2017 mendatang. Diharapkan, melalui PTA ini akan dapat membantu mewujudkan keinginan pemerintah menjadikan Iran sebagai penghubung (distributor) produk unggulan Indonesia di Timur Tengah.
Sementara itu, harga CPO kontrak pengiriman April 2017 di Malaysia Derivative Exchange masih melemah 1,18% ke level RM 2.773 per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Dugaan kenaikan produksi yang diperkirakan akan terjadi sepanjang Maret 2017 menjadi penjegal utama pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada perdagangan kemarin. Tekanan semakin besar setelah Intertek melaporkan ekspor Malaysia periode 1 β 25 Februari 2017 turun 1,9% ke level 907.078 ton dibanding periode yang sama bulan sebelumnya. Artinya terjadi penurunan permintaan yang menyudutkan pergerakan harga CPO.
Pada perdagangan kemarin, setelah direkomendasi dalam Call to Action Telegram Channel sejak 10 Februari lalu, sekarang SRIL sudah menguat sampai kemarin sebesar 33%. (ang/ang)











































