Follow detikFinance
Rabu 01 Mar 2017, 10:06 WIB

Saham Konstruksi Terimbas Pembangunan Infrastruktur

Ellen May - detikFinance
Saham Konstruksi Terimbas Pembangunan Infrastruktur Foto: Istimewa
Jakarta - Infrastruktur merupakan salah satu hal yang dilihat oleh mata para investor global, untuk menentukan tingkat kesehatan investasi negara tersebut. Namun, tahukah Anda, bahwa ternyata pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri ternyata dapat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan sektor infrastruktur di Indonesia?

Lalu, bagaimana pengaruhnya? Serta hal apa lagi yang ada dibalik pembangunan infrastruktur Indonesia yang sedang giat-giatnya saat ini? Mengawali perdagangan pada bulan Maret ini, mari kita simak jawabannya dalam #Kopipagi 1 Maret 2017 hari ini.

Mengikuti penguatan Dow Jones, kemarin IHSG masih berhasil bertahan di zona hijau. Bagaimana pergerakannya? Simak dalam review IHSG pagi ini.

IHSG pada perdagangan kemarin ditutup bertahan di zona hijau, dengan penguatan terbatas sebesar 0,07% di level 5,386.69. Sementara itu, Dow Jones tadi pagi ditutup melemah mengakhiri rekor penguatannya selama 12 hari berturut-turut, dan melemah dengan pelemahan sebesar 0,12% ke level 20,812.24.

Meski IHSG masih bergerak stagnan di area 5340-5410, namun beberapa saham berkapitalisasi besar alias saham blue chips sudah mulai menunjukkan taringnya seperti yang sudah saya ulas di email Hot List pagi ini.

Infrastruktur memang merupakan salah satu sektor andalan untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonomi. Tingginya dana APBN pemerintah untuk sektor infrastruktur, serta kebijakan yang dilakukan untuk mempercepat proyek-proyek di sektor ini, membuat sektor ini jadi sektor yang harus diperhatikan pada tahun ini. Saham apa sajakah yang akan terimbas dari sektor ini? Simak jawabannya berikut ini.

Infrastruktur, Kunci Untuk Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan penduduk Indonesia yang tidak sebanding dengan pertumbuhan infrastruktur menyebabkan banyaknya ketimpangan yang terjadi, terutama jika dilihat dari angka kemiskinan. Kebutuhan infrastruktur tersebut tentunya tidak mungkin ditunda lagi, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang saat ini sudah mencapai 250 juta penduduk, membuat Indonesia menempati posisi keempat dengan populasi terpadat di dunia.

Meskipun sudah berusaha untuk mempercepat pertumbuhan infrastruktur, namun percepatan pembangunan infrastuktur tersebut dihadapkan dengan keterbatasan anggaran pemerintah. Bahkan setiap tahun, pemerintah harus berhutang untuk memenuhi seluruh pembiayaan pembangunan yang sudah dirancang di APBN.

Menyadari masalah itu, pemerintah berharap agar keterlibatan pihak swasta di dalam pembangunan nasional bisa lebih besar. Artinya, pembangunan infrakstruktur tidak melulu tergantung dari anggaran negara. Guna mempercepat pembangunan infrastuktur tersebut, pemerintah dan sejumlah badan usaha swasta meneken perjanjian pengusahaan, perjanjian penjaminan dan perjanjian regres sejumlah proyek jalan tol.

Proyek tersebut meliputi pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek 2 (Elevated), Jalan Tol Kuala Namu - Tebing Tinggi - Parapat, Jalan Tol Serang - Panimbang, Jalan Tol Cileunyi - Sumedang - Dawuan (Cisumdawu), dan Jalan Tol Krian - Legundi - Bunder - Manyar. Dengan total pembangunan untuk ke 5 ruas tol tersebut mencapai Rp 50,6 triliun dengan panjang mencapai 362,06 kilometer dan ditargetkan akan segera rampung pada 2019 nanti.

Infrastruktur Dan Beton Precast

Melihat tingginya minat pemerintah terhadap sektor infrastruktur tahun ini, membuat produsen beton precast, bahan utama untuk pembangunan infrastruktrur masih optimis untuk terus berkembang tahun ini. Rasa optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya, Pemerintah harus mengejar ketertinggalannya membangun jalan tol sepanjang 1.000 kilometer yang hingga saat ini masih jauh dari target.

Pemerintah menargetkan hingga 2019 nanti akan membangun 52 proyek jalan tol di seluruh wilayah Indonesia yang panjangnya 1.000 kilometer. Hingga 2016, realisasi pembangunan jalan tol yang dicanangkan Pemerintah tersebut sudah mencapai 268 kilometer atau 26,8 persen dari total target.

Demi mendukung realisasi dari rencana tersebut, pemerintah juga terus meningkatkan jumlah anggaran belanja di sektor infrastruktur. Pada 2015, belanja infrastruktur pemerintah tercatat sebesar Rp 290,3 triliun, naik menjadi Rp 317,1 triliun pada 2016 dan pada 2017 ini dialokasikan sebesar Rp 387,3 triliun.

Ada sekitar 24 perusahan yang menjadi produsen beton precast di Indonesia, termasuk Waskita Beton Precast dan Wijaya Karya Beton, yang sudah mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Diantara seluruh perusahan beton precast tersebut, WSBP dan WTON merupakan perusahaan yang mengalami peningkatan paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Bayangkan saja, dalam tiga tahun terakhir kapasitas produksi Waskita Beton Precast meningkat dari 800 ribu ton pada tahun 2014, lalu meningkat lagi menjadi 1,8 juta pada 2015, dan langsung melejit hingga 2,65 juta ton pada akhir 2016 lalu. Sementara itu, WTON di 2014 tercatat memiliki kapasitas precast 2,23 juta ton, 2015 meningkat 2,34 juta ton dan pada 2016 kapasitas produksinya tercatat 2,5 juta ton.

Melihat sentimen serta pertumbuhan perusahaan beton precast tersebut, membuat saham-saham di sektor infrastruktur seperti WIKA, WSKT WSBP dan WTON merupakan top pick dari saham-saham di sektor infrastruktur untuk tahun ini.

Ulasan Saham ASII

Saham ASII sejak senin lalu, telah bergerak menguat didorong oleh meningkatnya kinerja perusahaan di laporan keuangan. Berdasarkan laporan keuangan 4Q16,

Astra International Tbk (ASII) melaporkan kinerja yang mantap dengan laba bersih mengalami peningkatan sebesar 4,84% menjadi Rp 15,16 triliun atau Rp374 per saham dibandingkan Rp14,46 triliun atau Rp357 per saham pada tahun 2015.

Pencapaian kinerja pada tahun 2016 oleh ASII tersebut didukung oleh peningkatan Laba bersih sebelum pajak dari Rp19,63 triliun menjadi Rp22,25 triliun, hal tersebut dikarnakan perseroan tidak mengalami kerugian penurunan nilai properti pertambangan pada tahun 2016, sedangkan pada tahun 2015 mengalami kerugian sebesar Rp5,26 triliun. (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed